Selasa, 12 Juni 2012

Korean Place

Changdeokgung

Istana ini merupakan salah satu istana termegah yang dibangun oleh para raja dari dinasti Joseon. Changdeokgung terletak di Jongno, daerah pusat turis. Saat penjajahan Jepang, istana ini hancur sampai yang tersisa hanya tiga puluh persennya. Namun, setelah mengalami beberapa kali restorasi, Changdeokgung masih terlihat sebagai salah satu istana terindah.



 Salah satu bagian tercantik dari istana ini adalah Huwon, taman belakang dengan kolam yang di tengahnya terdapat taman tambahan buatan manusia. Di pinggir kolam terdapat paviliun kecil yang kabarnya sering digunakan para putri saat mereka ingin menikmati waktu santai. Di sekeliling kolam, terlihat berbagai pohon yang akan berubah warna sesuai musimnya. Kebetulan, saya ke sana pada musim gugur, sehingga dedauan berwarna kemerahan memenuhi hamparan taman sementara pohon-pohon terlihat mulai mengering.



 Mengelilingi istana ini juga perlu stamina kuat karena lokasinya yang agak berbukit. Taman-taman indah ini terletak di bagian belakang dan agak menurun. Sehingga untuk melihat bagian depan istana, termasuk ruang utama dan ruang lainnya, harus sedikit olah raga.



 Seperti juga di istana lain, pada jam-jam tertentu, di depan istana akan dilakukan prosesi pertukaran pengawal. Selain taman yang indah, prosesi ini termasuk salah satu hal yang ditunggu-tunggu para turis.

Gyeongbokgung 

 Istana ini merupakan yang terbesar di tengah kota Seoul sekaligus merupakan istana tertua peninggalan dinasti Joseon. Di bagian depan istana terdapat halaman luas yang juga menjadi lokasi pemotretan yang keren, Gwanghwamun. Untuk masuk ke istana ini, kita harus membayar 1000 won.



 Cara termudah untuk mencapai istana menggunakan kereta bawah tanah jalur tiga atau oranye dan keluar di pintu keluar nomer 5. Di dalam kompleks istana ini ada dua gedung utama, paviliun Gyeonghoeru dan aula Geunjeongjeon. Yang terakhir ini adalah aula raja mengumpulkan para bawahannya untuk suatu pertemuan penting, sekaligus tempat penahbisan raja baru.



 Paviliun Gyeonghoeru menjadi tempat yang paling dikunjungi turis karena dikelilingi oleh kolam teratai. Taman di sekelilingnya menawarkan arsitektur taman yang megah. Seperti juga Chadeokgung, pada jam-jam tertentu berlangsung prosesi pertukaran penjaga istana. Karena istana ini lebih besar, skala prosesi pertukaran ini pun lebih besar dan meriah.



 Yang menarik adalah rombongan penjaga istana ini juga mengelilingi istana sehingga kita tidak perlu mencegat di bagian depan istana. Berdekatan dengan istana Gyeongbokgung, terdapat Museum National Tradisional Rakyat Korea yang menyimpan sekitar 4000 benda yang mewakili gaya hidup tradisional Korea. Berhubung saya kurang begitu menikmati museum, saya hanya menikmati museum ini di bagian luarnya yang menurut saya juga cukup asyik, terutama anak-anak kecil yang bermain di patung-patung kecil di depan halaman museum.

Deoksugung 

 Istana terakhir yang saya kunjungi adalah Deoksugung. Istana ini bisa dibilang yang paling baru dibanding istana-istana sebelumnya. Awalnya, istana ini merupakan tempat tinggal pangeran Wolsan, kakak raja Seongjong, tetapi kemudian dijadikan istana utama bagi raja-raja sesudahnya sampai akhirnya penjajahan Jepang.



 Nama Deoksugung berarti istana kebajikan abadi. Nama ini diberikan oleh anak raja Gojong yang merupakan raja terakhir dari dinasti Joseon.




 Dibanding dua istana sebelumnya, terus terang istana ini tidak megah dan tidak terlalu banyak hal yang menarik untuk dinikmati. Aula rajanya pun terlihat lebih kecil. Yang menarik adalah masih terdapatnya lonceng besar di sisi kiri istana. Halaman tengahnya juga masih sering digunakan untuk konser musik tradisional korea, seperti pansori.



 Di belakang istana Deoksugung ini juga terdapat Museum Seni dengan bangunan arsitek bergaya Eropa. Taman dan jalan setapak menuju museum ini memang manis. Buat yang mencari lokasi tenang untuk berpacaran, istana ini bisa dibilang jadi lokasi paling tepat. Romantis sekali. Sayang, saya melenggang sendiri. Judulnya, gigit jari.

Sebagai perempuan, berbelanja adalah aktivitas favorit setiap kali berkunjung ke negeri orang. Walau kadang tidak berbelanja, senang saja melihat berbagai barang yang dijual atau memperhatikan bagaimana warga setempat melakukan aktivitas jual beli. Ini juga berlaku saat saya berkunjung Seoul. Kota yang pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 ini punya beragam macam pasar, mulai dari pasar tradisional, pasar barang antik, pasar ikan, sampai pusat perbelanjaan modern alias mal.



Yang terakhir ini mungkin yang paling sering dikunjungi turis. Mal paling populer dikunjungi pastinya Coex, Lotte, dan kompleks mal Dongdaemun di mana pengunjung bisa puas berbelanja, keluar masuk mal lokal seperti Doota, Migliore, dan Hello apM hingga jam lima pagi.



Atau yang suka menongkrong, akan memilih kompleks pertokoan anak muda Myeongdong dan pasar seni Insadong sebagai target berbelanja. Sedangkan yang memiliki dana lebih, pasti akan langsung menjelajah pusat perbelanjaan super mewah di daerah Apkujong (Apkujong Rodeo Street, plus The Galleria) dan Cheongdam (Cheongdam Fashion Street). Namun, ternyata saat mencari tempat-tempat berbelanja, saya sempat “nyasar” dan justru menemukan pasar-pasar unik.


Pasar Tradisional Dongdaemun 



 Untuk mencapai pasar ini, Anda bisa turun di stasiun Jongno-5 dari kereta jalur 1, pasar ini akan segera ditemukan begitu keluar dari pintu keluar. Berbeda dengan kompleks mal yang menawarkan suasana belanja yang nyaman, pasar tradisional Dongdaemun ini tidak ada AC dan suasananya ramai seperti pasar-pasar tradisional di sini. Bedanya hanya lapak-lapaknya saja yang lebih teratur dan jalan untuk lalu lalang orang lebih besar. Berbelanja di sini, bagi turis seperti saya tentu saja akan kepentok dengan kesulitan berkomunikasi. Tapi, rasanya rugi juga jika tidak merasakan suasana pasar tradisional yang biasanya hanya saya lihat dalam acara variety 2 Days 1 Night (2D1N) itu.



 Akhirnya, saya pun memutuskan untuk mencoba jajanan pasar di situ. Lagi-lagi, seperti Kang Ho Dong salah satu anggota 2D1N menjalankan misinya. Saya mencoba chupal dan sosis darah babi yang merupakan salah satu makanan khas warga Korea. Yang menyenangkan berbelanja di pasar ini adalah menikmati gaya hidup warga Seoul langsung dan tentunya juga tidak terlalu menghabiskan dana, ketimbang mencoba makanan tradisional di restoran.



Pasar Loak Hwanghak-Dong 


 Lokasi pasar loak ini tidak jauh dari Dongdaemun. Untuk bisa mencapai pasar ini, naik kereta bawah tanah jalur 2 atau 6, dan berhenti di stasiun Sindang, di pintu keluar nomor 2. Berjalan sedikit menuju arah kantor Sindang, pasar ini bisa langsung ditemukan. Pasar ini dikenal juga sebagai pasar Doggaebi atau pasar serba ada karena memang berbagai macam barang dijual di sekitar 500 toko yang tersebar di pasar loak ini.



Seumur-umur saya tidak pernah melihat lensa dan kamera professional di lapak, kecuali di pasar ini. Saya sama sekali tidak mengira akan berbelanja di sini tapi pada kenyataan saya agak kalap juga. Apalagi, untuk urusan DVD film Korea. Beberapa toko CD dan buku bekas ini ternyata menjual juga CD, DVD dan buku baru. Buku tidak mungkin dibeli karena kebanyakan buku dengan tulisan hanggul. CD terpaksa dilewatkan karena saya keburu membeli di tempat lain. Harga DVD film yang dijual di sini sangatlah miring dibanding toko DVD yang berada di daerah mahasiswa, Sinchon, atau pasar stasiun bawah tanah (underground market) di Myeondong atau Gangnam.

Pasar Kaget Universitas Hongik 

 Daerah di depan universitas Hongik, yang merupakan kampus seni terbesar di Korea, merupakan tempat nongkrong favorit anak muda Seoul. Untuk mencapai kampus Hongik ini, bisa naik kereta bawah tanah jalur 2 dan keluar di pintu 5. Daerah yang lebih populer disebut Hongdae ini terlihat lebih hidup di malam hari karena jejeran restoran, klab, bar dan kafé yang selalu padat dan penuh dengan berbagai acara menarik.



 Yang menarik dari Hongdae ini adalah setiap Sabtu, di halaman bagian depan kampus berubah menjadi pasar kaget di mana siapapun – seniman, mahasiswa atau pedagang – menggelar lapak masing-masing dan menjual berbagai macam kerajian mulai dari kerajinan tangan, aksesoris, boneka, pakaian, tas, sampai peralatan rumah tangga. Berhubung pasar ini digelar di ruangan terbuka, pasar ini sangat tergantung pada cuaca. Biasanya pasar ini ada mulai dari musim semi sampai gugur selesai (kira-kira Maret sampai November). Bukanya pun tidak dari pagi, tapi mulai dari jam 1 siang. Yang menambah asyik berkeliling pasar kaget ini adalah banyaknya pengamen (band lengkap dengan amplifier atau hanya bermodal akustik) atau peragaan seni jalanan lainnya (pantomim) ditemui di beberapa sudut pasar ini. Jadi cukup dengan membeli es krim dan menonton musisi jalanan ini akan menjadi pengalaman berlibur yang menarik.
 

 Pergilah ke Ewha dan Hongdae di Ibu Kota Korea Selatan jika Anda ingin mencari aksesoris unik dan keren atau kehidupan malam yang mengasyikkan. Ibu Kota Korea Selatan, Seoul, memiliki banyak pilihan tempat berbelanja. Myeongdong adalah tujuan utama para turis yang ingin menghabiskan uangnya. Mereka yang suka bertualang dan menginginkan barang-barang unik, Ewha (atau diucapkan "Ii-dei") dan Hongdae adalah tempat yang dituju oleh orang lokal untuk mencari harga murah dan tren terbaru. Dua-duanya terletak dekat kampus-kampus universitas dan penuh dengan produk kreatif, biasanya ditujukan untuk mereka yang menyukai gaya-gaya unik. Nyaris tidak ada yang seragam di sini.
 Jalan Ewha 

Butuh penyesuaian untuk bisa berkeliling di Ewha. Ada banyak gang dan jalan-kalan kecil yang penuh dengan kios-kios dan rak-rak pakaian. Meski memusingkan, berkeliling di sini sangat memuaskan. Karena pasarnya adalah pelajar, maka harga-harga di sini murah, para penjaga toko tahu mereka yang datang ke sini kebanyakan memiliki anggaran terbatas. Secara aestetis, kawasan ini ditata ulang pada 2005. Kini jalan-jalannya disemen ulang, pohon-pohon pun ditanam untuk memberi kesan Eropa. Barang-barang favorit di sini termasuk sepatu, pakaian vintage serta, paling banyak, aksesoris. Menuju ke sana: Subway Line 2, langsung ke Stasiun Ewha. Keluar di pintu 1.
Jalan Hongdae 
Di dekat jalan ini, terdapat Hongik University, sekolah prestisius yang dikenal akan program seni dan desainnya. Maka pengunjung dan pelajar yang datang ke sini pun membawa energi serta kreativitas sekolah itu. Banyak barang yang dibuat oleh para pelajar. Pusat penjual pakaian dan toko vintage bisa Anda temukan di sepanjang jalan utama, Eo Ulmadang-gil, hanya beberapa menit dari stasiun kereta bawah tanah. Ada juga pasar mingguan yang disebut Art Free Market (sebuah pasar loak barang-barang seni yang dibuat oleh para pelajar) berlangsung mulai Maret sampai November antara jam 1 siang-6 sore. Tujuan belanja favorit lainnya buat orang lokal adalah Volkswagen (+822 (0) 2 334 8817), hanya berjalan sekitar 30 detik dari Stasiun Hongik. Banyak toko-toko di sekitar situ yang berjualan pakaian perempuan, tapi laki-laki juga dapat menemukan koleksi desain vintage juga, termasuk untuk kaus, tas pria dan berbagai macam topi. Orang-orang tidak datang ke Hongdae untuk belanja. Saat malam datang, kehidupan pun makin meriah. Pergilah ke Café aA (+822 (0) 2 3143 7312) sebelum menuju ke Club Mansion. Menuju ke sana: Subway Line 2 ke Stasiun Hongik. Gunakan pintu keluar 5.

















FAMZ:KBPKfamily
 
Posting Komentar