Super Junior FanFiction:
“Great Confession”
Ada satu kalimat yang
membuatku hampir gila karena bertahun-tahun memendamnya: Aku menyukaimu!
“Heechul,” teriakku seraya menghampiri nama
pria yang kupanggil, “Kim Heechul!”
Dia menghentikan kegiatan membacanya dan
mendongak untuk menatapku. Kugebrak mejanya hingga menimbulkan debam keras lalu
berteriak, “AKU MENYUKAIMU!”
Seketika kelas hening. Semua mata tertuju pada
kami yang sama-sama membeku. Heechul tak mengalihkan pandangannya sedetikpun
dariku. Aku…jadi merasa bodoh! “A…akhirnya,”gumamku lega sembari menyeka
keringat yang tengah meluncur di dahiku dengan punggung tangan.
Park Chae Ri, 17 tahun, siswi Myeongji High
School. Akhirnya berhasil menyatakan cinta!
“Kyaaa~,” teriakku histeris sambil memegangi
wajah dengan kedua tangan karena malu. Aku berbalik dan berlari keluar kelas
menuju toilet. “Micheosseo…micheosseo…!”
Kudorong pintu toilet hingga terbuka lebar dan masuk ke dalam salah satu biliknya. Setelah mengunci pintu, aku terduduk lemas di atas kloset yang tertutup. “Babo, babo! Kenapa aku melakukannya di kelas? Aish…” Kujambak-jambaki rambutku. Walaupun perasaan menjadi lega karena beban berkurang satu, tapi rasa malu ini harus bagaimana kutanggung? Pasti akan diejek teman sekelas. Ah, beban ini gugur satu tumbuh seribu. Tapi walau bagaimanapun, apa yang telah aku mulai harus kutuntaskan. Aku ingin segera sampai di akhir. Aku ingin melihat hasilnya.
Kudorong pintu toilet hingga terbuka lebar dan masuk ke dalam salah satu biliknya. Setelah mengunci pintu, aku terduduk lemas di atas kloset yang tertutup. “Babo, babo! Kenapa aku melakukannya di kelas? Aish…” Kujambak-jambaki rambutku. Walaupun perasaan menjadi lega karena beban berkurang satu, tapi rasa malu ini harus bagaimana kutanggung? Pasti akan diejek teman sekelas. Ah, beban ini gugur satu tumbuh seribu. Tapi walau bagaimanapun, apa yang telah aku mulai harus kutuntaskan. Aku ingin segera sampai di akhir. Aku ingin melihat hasilnya.
“Hwaiting, Chae Ri! Kyaaa~”
BRAK!
“Berisik!!!” teriak seorang cowok di luar
sambil menggebrak pintu. Tunggu… Cowok?! Omo, aku nyasar di toilet cowok?
Kyaaa…
Akhirnya aku tak masuk jam pelajaran sampai
waktu istirahat makan siang tiba. Karena aku dihukum guru dengan tuduhan
maniak!!!
+++++++
KULETAKKAN dua kotak bekal makan siang di atas
meja Heechul. Dia yang sedang mengenakan headphone-nya, segera menjauhkan benda
itu dari telinga dan mendongak padaku. Wajah bingungnya lucu. Alisnya bertaut,
pertanda meminta penjelasan dariku. Aku tersenyum manis sekali, menurutku,
entah bagaimana menurutnya. “Heechul-ah, kita makan siang bareng, ya? Kubuatkan
bekal makan untukmu.”
Heechul mengubah ekspresi wajahnya. Kini lebih
dingin, tajam, dan kejam. Kuusahakan agar bibirku tetap menyungging. Padahal
nyaliku sudah menciut. Ia mengeluarkan i-pod dari dalam saku celananya dan
mematikan musik yang sedang ia dengarkan. “Apa ini?” tanyanya ketus.
“Bekal makan siang yang kubuatkan penuh
cinta,” jawabku dengan semangat menggebu.
“Jauhkan ini dari mejaku!” titahnya seraya
menunjuk kotak bekal.
“Kenapa? Padahal sudah capek-capek kubuatkan!
Kalau tidak banyak makan, nanti susah tumbuh, lho.”
Heechul memandangku galak, “Kenapa sih
mendadak nempel-nempel seperti ini padaku?”
“Ne?!” pekikku kaget.
“Benar-benar menyusahkan!”
“Ne?!” nadaku meninggi. Aku syok dan kesal
dituduh seperti itu. Kubuka kain pembungkus kotak bekal dan penutup kotaknya,
lalu kutumpahkan seluruh isinya di atas kepala Heechul. “SIAPA YANG
NEMPEL-NEMPEL, HAH?!” teriakku kesal, lalu menyambar kotak bekalku dan bergegas
pergi keluar kelas.
Aku berlari di sepanjang koridor. Wajahku
memerah. Perkataannya tadi memang benar, aku mendadak mendekatinya. Hal ini
kulakukan karena aku tak ingin didahului oleh gadis lain. Aku takut kejadian
satu bulan silam terulang. Dimana aku yang pengecut ini tidak berani
mengungkapkan perasaanku, sehingga Jung Hee Bon mendahuluiku. Hoobae itu
menyatakan perasaannya pada Heechul. Dan naasnya Heechul menerima cintanya.
Tapi seminggu yang lalu mereka putus. Aku tak tahu apa penyebabnya. Dan sejak
saat itu sikap Heechul menjadi semakin dingin dan tertutup.
Kusuapkan sendok berisi nasi ke mulutku. Aku
sudah berada di loteng sekolah sekarang. Angin berhembus kencang, sebentar lagi
musim dingin. Tapi aku malah makan sendirian di sini. Usahaku bangun subuh
untuk membuatkannya bekal sia-sia.
Aku sudah lama menyukainya. Hal itu terjadi
ketika hari pertama masuk sekolah di tahun pertamaku. Kulihat dia tengah
mengobati anak kucing yang sedang terluka di pinggir jalan. Wajahnya damai
sekali. Dan senyum terpancar dari wajahnya. Sejak saat itu, kuputuskan untuk menyukainya.
Tapi sampai tahun ketiga pun aku tak berani mengungkapkan perasaanku. Beberapa
jam lalu aku menyatakannya, tetapi hasilnya malah seperti ini. Arrrgghhh…
Kugigiti sendokku sampai gepeng.
Bel berbunyi, istirahatpun selesai. Kubereskan
bekas makanku dan segera turun ke bawah menuju kelas. Saat di koridor depan
kelasku, kulihat Jung Hee Bon dari arah berlawanan. Dia mengatakan sesuatu saat
kami berpapasan, “Apa tidak terlalu cepat, ya?”
Aku kaget sekaligus tak mengerti dengan apa
yang baru saja ia katakan. “Ne?” sahutku.
Dia berbalik menghadapku, “Heechul-oppa baru
saja kuputuskan minggu lalu. “
“Oh. Aku…,” jantungku berdebar keras, “…aku
hanya tak ingin menyesal.” Kulihat ekspresi Hee Bon yang tercengang saat aku
mengatakannya sambil tersenyum.
“Hyaaa, Park Chae Ri!” panggil Heechul. Aku
menoleh dan mendapatinya sedang memandang Hee Bon. Bukankah aku yang barusan
dipanggilnya? Dan yang paling menyakitkan, dia memanggilnya, “Hee Bonnie?”
Cukup! Aku tak mau melihat Heechul bersedih.
Aku tak ingin dia melihat Hee Bon. Tak ingin melihatnya terluka. Kualihkan
pandanganku pada Hee Bon. Ekspresi yang sama, kepedihan. Aku sama sekali tak
mengerti. Ada apa sebenarnya di antara mereka?
“Sudah ya,” ujar Hee Bon memecah keheningan
dan pergi meninggalkan kami.
Kulihat Heechul masih memandanginya.
Heechul-ah, sekarang bagaimana perasaanmu padanya?
“Heechul-ah,” panggilku seraya menarik-narik
lengan seragamnya, “Kalau mau menangis, menangislah sepuasnya. Aku…akan
kupinjamkan bahuku.”
Heechul malah menatapku. Sorotan matanya
melunak dan sangat dalam. Jangan salahkan aku jika beberapa menit kemudian aku
meleleh! Dia menghela napas dan mengacak pelan rambutku, “Mungkin kau yang mau
menangis, bukan aku. Aku takkan pernah menangis.”
Jantungku berdebar keras. Tiba-tiba saja
sikapnya menjadi lembut. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikirannya. Kalau
begini, bagaimana aku bisa mencintainya? Bukankah mencintai seseorang itu perlu
mengetahui jalan pikirannya? Dengan begitu kau dapat merasakan kalau rohmu
dengannya menyatu dalam satu jiwa. Kim Heechul kau hebat bisa membuatku gila
seperti ini…
+++++++
HARI ini pun sama. Aku bolos jam pelajaran
awal. Bukan karena dihukum lagi, tapi karena aku mencari Heechul. Di kelas
hanya ada tasnya. Aku penasaran dan tak sanggup bila sedetikpun tak melihatnya.
Maka aku pura-pura sakit agar diizinkan seonsaengnim pergi ke ruang kesehatan.
Kini aku ada di pekarangan sekolah. Biasanya
Heechul senang sekali membaca buku di bawah pohon favoritnya dan Omo…aku
menemukannya! Dia tertidur pulas. Aku berjalan menghampirinya. Senang sekali
bisa melihatnya sedekat ini. Terlihat sangat tenang dan damai. Heechul, bukalah
matamu dan temukan cinta yang lain…
Kubuka mataku. Omomomo~ Aku ikut tertidur.
Kucium bau shampoo menusuk hidungku. Harumnyaaa… Apa aku tertidur di toilet?
Tapi, bukankah tadi aku sedang di pekarangan sekolah? Sejak kapan di sana ada
toilet?
Kutajamkan penglihatanku untuk mencaritahu
sedang dimana aku sekarang. “Kyaaa~”
“Sudah bangun?” tanya Heechul santai.
“Ba…bagaimana bisa aku…”
“Kau tertidur di atas perutku tadi. Jam
pelajaran pertama sudah habis. Tadinya kau akan kutinggalkan, tapi… Ya sudah
kugendong saja.”
“Heecul-ah,” panggilku lembut.
“Ne?”
“Sebenarnya sudah dari kelas satu aku
menyukaimu. Tapi aku tak pernah berani bilang. Kupikir dengan memendamnya saja
sudah cukup bagiku. Ternyata aku salah. Hatiku sakit sekali saat tahu kau
menerima cinta Hee Bon. Dadaku selalu sesak tiap kali melihat kalian jalan
berdua sepulang sekolah. Kupikir waktu itu aku adalah perempuan paling malang
sedunia. Lagi-lagi aku salah. Bagaimana mungkin aku merasa paling malang,
karena yang kucintai ini adalah seorang Kim Heechul. Pria yang selalu
memberikan semangat hidup untukku. Sekarang aku bertekad untuk mengutarakan
semuanya padamu. Aku takkan menyerah walaupun kau baru saja diputuskan oleh Hee
Bon, ataupun masih menyayanginya. Aku…aku menyukaimu, Heechul-ah,” tuturku
panjang lebar.
“Chae Ri, apa kau tahu?” tanyanya mengeratkan
pegangan tangannya pada kakiku, “Waktu kau bilang suka, tanganmu gemetaran.”
GUBRAKKK!!! Dia menghancurkan suasananya.
“Jangan takut! Aku takkan menggigitmu,”
candanya seraya menoleh ke wajahku yang sedang bersandar di bahunya. Membuat
wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Jantungku berdebar sangat kencang.
Ya, Heechul adalah orang yang kusukai sekaligus yang paling kutakuti. Tapi
sekarang aku ingin lebih dekat dengannya. Karena aku menyayanginya.
+++++++
Keesokan harinya…
“Chullie, ayo makan siang bareng!” ajakku tak
tahu malu.
“Sampai kapan kau mau membawa bekal untukku?”
“Wae? Kau lebih suka aku tak masak untukmu?”
“Ne!”
JAHAAATTT… Kugigiti saputanganku. Dia
mendekat, lalu menyentil jidatku. “Hyaaa, SAKIT!!!”
“Oppa,” panggil seseorang dari arah pintu
masuk, “Aku mau bicara sebentar. Ada waktu, kan?”
JUNG HEE BON?! Buat apa dia memanggil Heechul?
Belum puaskah membuatnya sengsara?! Aishhh… Kugigiti saputanganku lebih kuat.
Kulihat Heechul menaruh bukunya dan bangkit dari kursi. Kenapa dia datang lagi?
Apa sebetulnya maksud Hee Bon? Heechul-ah, kau takkan pergi, kan? Kim Heechul…
“Baiklah,” Heechul berjalan menghampiri Hee
Bon, “Kita bicara di luar.”
Dadaku sesak sekali. Rasa yang pernah
kurasakan bulan lalu, ketika Heechul menerima pernyataan cinta Hee Bon. Kini
rasa itu kembali menyembul ke permukaan. Heechul-ah, kaljima!
“Heechul…,” panggilku akhirnya.
Dia menoleh dan menatap dalam mataku, “Chae
Ri?”
Apalagi yang harus dibicarakan? Hee Bon-lah
yang sudah memutuskan hubungan mereka. Sedangkan Heechul masih sayang padanya.
Kalau Heechul pergi bersamanya, dia pasti…
“Jangan pergi!” pintaku setengah berteriak.
“Aku tahu sama sekali tidak berhak berbicara seperti ini, tapi…Heechul…,”
Kucengkeram seragamnya, “Kalau kau pergi, kau… TAKKAN KEMBALI PADAKU!”
“Mianhae…” Hanya satu kata itu, dia berhasil
menghancurkan hatiku. Disingkirkannya tanganku dari seragamnya dan berbalik
pergi menghampiri Hee Bon yang sudah menunggunya.
Dulu kupikir aku akan menyesal jika tak
mengatakannya. Ternyata aku tetap menyesal meski telah mengatakannya. Aku
berjongkok di antara meja-meja kosong. Karena para pemiliknya sibuk
membicarakan ketidaksopanan sikapku barusan. Aku berlari ke depan kelas,
rasanya hati sakit sekali mendengar komentar semua orang.
TING TONG…
Heechul bolos belajar lagi. Heechul, jika
bersama Hee Bon membuatmu bahagia, kurasa aku bisa menerimanya. Bukankah kita
akan merasa bahagia jika orang yang dicintai pun bahagia? Aku tidak pernah
berpikir sejauh itu, tapi…
“Aku…aku menguji Heechul-oppa,” kata suara di
sampingku. “Tadinya… Oppa pacaran denganku karena terpaksa menerima pengakuan
cintaku. Aku jadi ingin tahu perasaan oppa yang sesungguhnya. Waktu aku minta
putus, dia berlalu tanpa bicara. Tapi, dia sama sekali tidak bertanya atau
berusaha minta aku berubah pikiran. Heechul-oppa tahu kalau aku cuma
mengujinya. Begitu melihat oppa yang kembali pada Chae Ri-eonni yang sudah ia
tinggalkan, aku paham perasannya yang sesungguhnya.”
Sekarang aku mengerti. Aku memang sangat ingin
membahagiakan orang yang kusayangi. Dan yang bisa membahagiakanku hanya ada
seorang pria, Kim Heechul…
Aku memeluk kilat Hee Bon. Lalu berlari ke
pekarangan sekolah. Mencarinya di bawah pohon favoritnya. Setelah sampai, aku
melihatnya tengah berdiri memainkan seekor anak kucing.
“Chullie-ah, aku menyukaimu…,” ujarku dengan
napas tersengal-sengal.
“Aku?” Tanya Heechul, seperti baru pertama
kali mendengar.
“Katakan! Apakah kau juga menyukaiku?”
Heechul menurunkan anak kucingnya ke tanah,
lalu menarik tanganku, “Tak perlu terburu-buru. Aku pasti…akan membalas
perasaanmu.”
+++++++
Satu bulan kemudian…
Aku mendengar kata ‘cinta’ darinya. Kata yang
diucapkan dengan tulus dan penuh perasaan. Dia juga memberikan senyum manisnya
untukku. Aku benar-benar gadis paling bahagia sedunia.
“Sebetulnya…aku ini bukan cowok agresif. Tapi
juga bukan tipe pasif. Jadi siap-siap saja, ya!” Dia mengatakannya dengan wajah
serius. Sorot matanya sangat tajam. Benar-benar membuatku ketakutan. Tapi tak
lama kemudian dia mengecup bibirku, “Hehe…” cengiran lebar selebar iblis
terukir di wajahnya.
“Hyaaa!” teriakku dan mengejarnya mengelilingi
pohon. Kini pohon itu bukan hanya tempat favoritnya, tapi juga favoritku. Kami
selalu bermain di sini jika sedang malas belajar dan rajin membolos.
Di ujung pengakuan cintaku, kutemukan akhir
yang bahagia…
The End
share @ superdiya.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar