“I Love My Minnie Mouse!!!”
“Taeyoung, kita putus!” ujarnya mantap saat
kami sedang makan siang di kantin kampus. “Aku sudah punya pacar baru.”
Kuhentikan kegiatan makanku dan kutatap dia
lekat-lekat.
“Kau jangan sedih begitu! Aku jadi tak enak,”
katanya dengan wajah sok penuh keprihatinan.
“Aku tidak sedih. Malah aku bersyukur bisa
lepas dari cowok hidung belang sepertimu,” ujarku menggebu-gebu seraya
mengacung-acungkan garpu ke wajahnya. “Asal kau tahu, aku juga sudah punya
pacar baru!”
“Kau bohong,” sahutnya dingin.
“Aku tak bohong!”
“Baiklah, kalau begitu malam tahun baru nanti
kita double date. Bagaimana?” tantangnya.
“Oke, siapa takut. Akan kukenalkan pacarku
yang luar biasa tampan itu.”
__________
Malam tahun baru…
Kyaaa~~~ Kalau saja waktu itu aku tak membual,
jadinya takkan seperti ini. Luntang-lantung dijalanan seperti gelandangan.
Sungguh menyiksa batin!
Aku harus mencari pacar kemana lagi? Tak ada
yang mendekatiku. Padahal kan aku tidak jelek-jelek amat. Dulu sewaktu aku
masih berpacaran dengan si playboy Junho, banyak sekali yang mengajakku
berkenalan. Tapi kenapa sekarang sepi orderan? Hiaaa~~~
Shim Junho, cowok playboy paling babo
yang pernah kutemui. Dan sepertinya aku lebih babo karena mau berpacaran
dengannya. Oh, ini bukan salahku. Tentu saja bukan! Teman-teman sekelas yang
menjodohkanku dengannya. Sudah sejak awal kami tak mau. Tapi mereka terus
memaksa kami hingga akhirnya kami menyerah. Tujuan kami berpacaran adalah untuk
meredam gosip. Tidak lebih! Tapi anehnya hubungan kami awet hingga setahun
lebih. Dan kami menjalaninya seperti sepasang kekasih pada umumnya. Aku nyaman
berada di dekatnya. Tapi pernyataannya waktu itu benar-benar membuatku kesal.
Dan sekarang aku kemakan omonganku sendiri. BABO!!!
“Aaaaaa~~~,” seseorang berteriak dibelakangku.
Aku menoleh dan mendapati seorang cowok, ah
bukan, pria! Dia mencoba mengambil sesuatu yang tergeletak di tengah jalan. Aku
melihat mobil melaju kencang ke arahnya. Babo! Dia benar-benar cari
mati.
“Hyaa~~,” aku berlari ke arahnya dan
kutarik jas hitamnya.
Kami tersungkur ke trotoar dan hebatnya lagi,
dia menindihku. SAKIT!!!
“Mianhae,” dia lekas berdiri dan
membantuku bangun. “Kamsahamnida. Kau sudah menyelamatkan nyawaku.”
Aku tidak memedulikannya dan malah sibuk
membersihkan bajuku yang kotor.
“Agashi, aku berbicara denganmu. Kau dengar?”
tanyanya sopan.
“Kau ini babo sekali. Masa
mempertaruhkan nyawa hanya karena sebuah topi?! Di mana otakmu? Bagaimana kalau
tadi kau…,” aku tak mampu melanjutkan kata-kataku lagi saat mendongak menatap wajahnya.
OMONA~~ Ganteng sekali!!!
“Aku kan sudah minta maaf dan berterima kasih
padamu. Kenapa marah?” protesnya imut sekali.
“Ya..ya..,” sahutku tak jelas. Baru kali ini
aku melihat cowok setengah pria seimut dia.
“Gwenchana?” tanyanya sembari memakai kacamata
hitam. Dan syukurlah aku tak mimisan, karena dia semakin tampan. Kyaaa~~
“Ne, na gwenchana. Kenapa kau
repot-repot mengambil topimu? Kau hampir mati tadi!”
“Karena ini topi kesayanganku. Aku juga bisa
mati tanpa topi ini!”
Aku mengerutkan dahi tak mengerti.
“Izinkan aku membalas jasamu!”
Balas jasa? Haruskah? Dan tiba-tiba ide busuk
muncul dari otakku bagian terdalam. “Apa aku boleh minta sesuatu?”
Pria itu mengerutkan dahinya, “Selama masih
dalam batas kewajaran, sih aku bisa.”
Tapi ini tak wajar! Ah biarlah, kucoba saja.
“Apa kau mau berpura-pura menjadi pacarku? Hanya untuk malam ini saja, kok.”
“Ha?”
“Mmm.. Begini, aku diramalkan jomblo seumur
hidup kalau tak juga memiliki pacar hingga malam tahun baru. Jadi, kau mau
membantuku?” pintaku berbohong.
“Aaa~~ Kasihan sekali kau. Baiklah, semoga ini
membantumu bebas dari kutukan itu.”
“Gomawo~” pekikku semangat.
__________
PLAK~
Junho menimpuk kepalaku. Dia menggandeng
seorang wanita dan memamerkannya padaku.
“Bisa tidak kau bersikap lebih sopan pada
wanita?”
“Wanita? Kau?” dia terkekeh. “Mana pacarmu?
Jangan bilang kau ke sini hanya untuk meminta maaf dan menyesal telah membual
waktu itu!”
Kutendang tulang keringnya, “Hya~ Aku
tak berbohong! Dia sekarang sedang membelikanku eskrim!”
“Jagiya~,” panggilnya riang sambil
menenteng dua cone eskrim. Wajahku memerah saat dia memanggilku seperti
itu.
“Gomawo,” aku menerima eskrimnya. Dan
pacar Junho memekik saat melihat ‘pacarku’ itu.
Ya, ya, ya. Dia memang ganteng. Wajar kalau
dia memekik begitu.
“Taeyoung, kenalkan ini Hee Jin, pacarku.”
Kami bersalaman. Dia ramah sekali dan
kelihatannya dia gadis baik-baik. Kasihan sekali kok bisa-bisanya berpacaran
dengan Junho.
‘Pacarku’ itu tersenyum dan mengulurkan
tangannya mengenalkan diri, “Annyeong, Minnie imnida.”
Serentak Junho dan Hee Jin terkikik geli.
“Haha~ Kau pikir kau Minnie Mouse?” ejeknya sambil terus-terusan tertawa.
Sedangkan aku? Berdiri mematung. Aku saja baru tahu namanya!!!
“Sudah jangan tertawa lagi! Mau Minnie Mouse
kek, Mickey Mouse kek, dia tetap pacarku. Jangan mengejeknya lagi! Dia jauh
lebih sopan darimu, Junho. Harusnya kau sadar akan hal itu!” teriakku.
“Kau!!” teriak Junho hendak menarikku namun
Minnie mendahuluinya.
“Taeyoung, kau manis sekali jika sedang
marah,” pujinya sambil senyam-senyum dan melingkarkan tangan kanannya ke
leherku, dengan kata lain, dia memelukku dari belakang. Wajahku PANAS!!
__________
Sore ini kami bermain sepuasnya di taman
bermain. Minnie benar-benar menjagaku. Dia selalu membawaku pergi menghindar ketika
Junho mulai mendekatiku. Dan kejadian aneh kerap kali terjadi, Minnie selalu
ditatap cewek-cewek. Dari mulai yang seumuran, eonni-eonni, sampai
ajumma-ajumma mendekatinya hanya sekedar untuk melihatnya dari dekat. Apa
kharisma kegantengannya seluar biasa itu? Aku jadi bingung.
“Hya, Minnie Mouse! Aku pinjam Taeyoung
sebentar, ya!” pinta Junho.
Padahal aku sudah memasang wajah ngeri, tapi
Minnie dengan cutenya berkata, “Silakan.”
Ah, ya. Mana mungkin dia melarangku. Aku kan
hanya pacar bohongannya. Tapi ada yang aneh dengan perasaanku. Perasaan apa
ini?!
Junho menarik-narik lenganku. Dengan paksa ia
menyeretku untuk naik bianglala. “Aku tak mau. Kau kan tahu sendiri kalau aku
takut ketinggian!” tolakku.
“Sebentar saja!” paksanya.
Aku berhenti, sama sekali tak ingin naik
bianglala mengerikan itu. Junho pun ikut berhenti.
“Hya, kau ini kenapa? Kenapa jadi galak
seperti ini padaku?” tanyanya.
Aku diam tak menggubrisnya.
“Mmm.. Taeyoung, kita balikan yuk. Aku kurang
suka dengan Hee Jin. Dia membosankan karena terlalu lembut, tak seperti kau
yang bisa kuajak berantem.”
“Mwo?!” pekikku shok, “Kau gila? Demi
gadis itu kau memutuskanku, kan? Kenapa sekarang merengek-rengek minta balikan
denganku?”
“Hey, aku tak merengek, ya!”
“Ah, sama saja! Lagipula aku sudah punya
Minnie. Hanya gadis bodoh yang rela melepaskan pria sebaik dia dan kembali
padamu!”
“Memang apa bagusnya cowok feminin itu?”
teriaknya sambil mendorongku kasar, sehingga aku terpeleset dan hampir
terjatuh. Syukurlah Minnie menarikku dari belakang.
“Taeyoung, kau tak apa-apa?” panggil Junho.
Minnie menarikku ke balik punggungnya. “Jangan
dekati dia lagi!”
“Aku mantan pacarnya!”
“Aku pacarnya!!!” teriak Minnie marah,
wajahnya berubah serius. Wajahku lagi-lagi memerah.
“Sok jagoan! Mau ngajak berkelahi, ya?!”
“Hentikan!” teriakku.
“Kalau kau memang menantangku…,” sahut Minnie
dengan wajah dingin.
“Sesukamu sajalah!” teriak Junho sambil pergi.
__________
“Taeyoung, masih lama tidak? Aku masih punya
kerjaan, nih.”
Minnie kerja? Dia kerja apa?
“Sebentar lagi, kok. Oh ya, aku kaget, lho.
Baru sekali ini melihat wajahmu serius. Kau benar-benar galak sekali tadi.”
“Eh? Haha~ Kalau demi ‘pacar’, aku memang
harus marah. Aku sendiri pun kaget kenapa bisa marah. Baru kali ini lho aku
marah. Hahaha~”
Kenapa dia bicara seperti itu? Ini hanya akan
membuatku semakin sulit berpisah dengannya.
“Kyaaa~~,” Cewek-cewek berhamburan berlari ke
arahnya.
“Annyeong.. Annyeong..,” sapa Minnie
ramah dengan senyum imutnya.
Hyaaa~~ Apa-apaan ini?! Oh,
Tuhan.. Aku benar-benar tak mengerti. Kenapa banyak sekali yang menginginkan
foto bareng dan tanda-tangannya?
“Taeyoung, ayo!” ajaknya setelah selesai
meladeni mereka semua. Serta-merta cewek-cewek itu memotret kami dan
mencibirku.
“Min, tadi itu apa?”
Dia menghentikan langkahnya, “Kau serius tak
pernah melihatku sebelumnya?”
Aku menggeleng.
“Mmmm… Mereka itu dongsaeng-dongsaengku.
Mungkin mereka sedang dapat tugas kuliah untuk foto bareng sunbaenya.”
“Mana mungkin!!!” aku tak percaya sama sekali,
“Lalu eonni dan ajumma yang berseliweran tadi apa? Masa mereka kuliah juga!”
“Sudahlah, yang jelas aku ini orang baik-baik.
Kau tak perlu cemas!”
Ya, memang. Kau pria yang baik. Kau pria
paling baik yang pernah kutemui.
BRUK!
Kulihat Junho sengaja menumpahkan kopinya ke
jas Minnie.
“Aaahhh~~,” erang Minnie kepanasan, “Jasku!
Aku masih harus kerja…”
“Junho! Aish, brengsek benar kau!” teriakku
dan langsung melepas paksa jas Minnie. Aku berlari celingukkan mencari keran
air bermaksud membersihkannya.
“Taeyoung, sudahlah. Jangan merepotkan
dirimu!”
Aku menemukan keran air di dekat toilet dan
mulai membersihkan jas itu. “Mianhae… Gara-gara dia jasmu jadi kotor
seperti ini.”
“Sudah tak apa-apa!”
“Ini sudah agak bersih. Haduh jadi basah. Mian,
ya!”
Minnie tersenyum, “Kau baik sekali, Taeyoung.
Beruntung sekali aku bisa bertemu gadis sebaikmu. Kau benar-benar gadis yang
baik…”
“Cukup, jangan bilang aku baik lagi! Aku sama
sekali bukan gadis yang baik. Aku sudah membohongimu. Sebenarnya ramalan itu
tidak ada. Junho menantangku double date malam ini. Aku menyanggupinya
dan bilang kalau aku sudah punya pacar…,” aku mulai menangis, “Aku bukan gadis
yang baik. Sekarang kau tahu keburukanku, kan?”
Minnie menarik lenganku. Tak lama kemudian aku
sudah berada dalam pelukkannya. “Siapa bilang kau bukan gadis yang baik?
Buktinya kau rela membiarkan tanganmu basah kedinginan hanya untuk mecuci
jasku. Bagiku kau ini gadis yang baik, Taeyoung. Tenanglah, bukan kau saja yang
berbohong, aku juga,” ujarnya sambil cengar-cengir cute.
“Mwo?” Kulepaskan diriku dari
pelukannya.
“Minnie itu bukan nama asliku. Itu hanya nama
kecil. Nama asliku sebenarnya Lee Sungmin…”
Sebentar, sepertinya aku pernah mendengarnya.
Tapi dimana? Entahlah!
“Lee Sungmin?” ulangku dan dia mengangguk.
__________
“Kami pamit pulang,” pamit Hee Jin seraya
membungkuk. Setelah tragedi ‘kopi tumpah’ tadi, Junho mogok bicara karena
pipinya kutonjok. Benjolan ungu di wajahnya itu telah membuatnya sulit
berbicara.
“Ne, hati-hati di jalan. Sampaikan
permohonan maaf pada Junho. Aku sebagai pacarnya Taeyoung mewakilinya untuk
meminta maaf,” ujar Sungmin santun.
“Harusnya dia yang meminta maaf karena telah
membuat jasmu kotor.”
“Iya, harusnya si brengsek itu yang minta maaf
padamu,” umpatku. Namun Sungmin membekap mulutku dan menyeretku pergi menjauhi tempat
itu sambil terus-terusan berusaha membungkuk pada Hee Jin.
“Ssshhh… Mana boleh gadis secantik dirimu
mengumpat seperti itu!”
“Habisnya aku kesal!”
“Sudahlah, jasku sudah mulai kering, kok.”
Lagi-lagi dia tersenyum manis sekali, “Aku harus pergi.”
DEG!
Pergi? Aku baru ingat kalau dia jadi pacarku
hanya sehari saja. Setelah ini kita harus berpisah dan kembali ke kehidupan
masing-masing. Berat sekali rasanya. Egois memang jika aku memintanya untuk
tetap menemaniku. Dia harus pergi, dia bukan pacarku! Selesai sudah perannya,
dan kami takkan pernah bertemu lagi. Andwae! Bagaimana ini? Aku jadi
suka dia! Aku tak mau ini berakhir!!!
“Mmmm… Taeyoung, begini…”
GREP!
Kutarik jasnya, dia terkejut namun tetap
tenang.
“Mian…Aku ingin kau jadi pacar yang
sesungguhnya. Bukan bohong-bohongan! Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu,
ingin bersamamu. Bolehkan?” ujarku blak-blakkan tak tahu malu.
Sungmin tertawa, “Aku juga kan mau bilang
begitu. Hahaha~”
“Mwo?!”
Sungmin mengangguk, lantas aku memeluknya.
“Tapi aku mesti kerja, nih. Dari tadi
Leeteuk-hyung ngesms minta aku segera datang. Kau ikut saja bersamaku,
bagaimana?”
__________
Aku dan Sungmin berjalan menyusuri
lorong-lorong yang di kiri-kanannya terdapat banyak sekali ruangan-ruangan.
Gedungnya besar sekali. Jujur saja, ini pertama kalinya aku kemari.
“Sungmin-ah, untuk apa kita ke SBS?”
“Malam ini aku kerja di sini.”
“Oh ya? Jadi apa? Produser, manajer, atau
apa?”
Sungmin tak menjawab, dia malah tersenyum.
Lalu kami memasuki sebuah ruangan yang cukup besar. Di dalamnya terdapat banyak
sekali orang. Mereka semua memarahi Sungmin ketika melihat batang hidungnya.
“Dari mana saja kau?” teriak seseorang
berwajah agak garang dan berperawakan sedikit gemuk.
“Jeongmal mianhae yeorobun, aku ada
urusan sebentar, jadi terlambat.”
Seseorang melirikku. Dia senyum-senyum padaku.
“Sungmin-ah, apa karena dia?” tanyanya dan Sungmin mengangguk.
Pria itu menarik lenganku dan membiarkanku
berdiri di tengah. Aneh sekali rasanya. Mengapa ruangan ini isinya pria-pria
tampan semua?
“Dia tak tahu siapa kita. Bahkan dia tak tahu
siapa diriku,” ujar Sungmin membuatku bingung. Dia menghilang masuk ke ruangan
lain untuk mengganti bajunya.
“MWO???!” sahut mereka semua.
Lantas pria yang tadi menarikku mulai
bertanya, “Kau benar-benar tak tahu kami?”
Aku menggeleng.
Dia menarik napas dalam-dalam, “Aku Leeteuk.
Masih belum mengenalku?”
Aku menggeleng lagi.
“URINEUN SHUPEO JUNI…,” teriaknya dan
yang lain menimpali, “O~ E~ OH~”
Aku terkejut, “Su, Su, Super Junior?” pekikku.
“Kau tahu Super Junior?”
Aku mengangguk.
“Kau tahu Super Junior tapi tak tahu kami?”
teriak seseorang dari pojok dan menampakkan wajahnya.
“Heechul-oppa!!” pekikku.
“Kau tahu dia?” tanya Leeteuk.
Aku mengangguk, “Hanya dia.”
Lantas Heechul melompat dari kursinya dan
menari-nari tak jelas. Membuatku heran sebenarnya dia makhluk dari planet mana.
“Jadi, jadi… Kalian adalah Super Junior yang
terkenal itu?”
Mereka semua mengangguk.
“Mianhae… Aku tidak hapal wajah dan
nama kalian. Kalian terlalu banyak. Aku hanya tahu Heechul-oppa karena aku
pernah menonton dramanya. Jeongmal mianhae…”
“Gwenchana…” sahut Leeteuk.
“Jadi… Pacarku seorang idol? Super Junior Lee
Sungmin?”
“NE~~~,” jawab mereka semua.
Aku benar-benar bahagia. Entah harus
kugambarkan dengan kata-kata seperti apa. Yang jelas aku sangat, sangat, sangat
bahagia sekali. Lee Sungmin, dia adalah hadiah awal tahun terindah yang pernah
kudapatkan.
The End
by
diyawonnie
share @ superdiya.wordpress.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar