Minggu, 01 April 2012

LOVE IS DESTINY (part 5-END)


LOVE IS DESTINY (part 5-END)



Type                : Multi-chapter
Author             : Istrinya Kyuhyun
Main Cast       : Cho Kyuhyun, Hong Hae Jin, Yoo Ae Jong
Supporting Cast : Choi Siwon, Tuan Hong, Tuan Cho, Nari, Donghae, Leeteuk, Yesung
Rating             : All Ages
Theme             : Romance




Review last chaper

Pada saat sama dengan pertemua Kyuhyun dan Hae Jin.

“Tuan, hari ini anda akan bertemu dengan pengusaha pemenang tender kita di ruang rapat.” Ucap sekretaris Tuan Cho.

“Baiklah, suruh semua orang keruang rapat sekarang.”
“Baik tuan.”

Tuan Cho berjalan sendirian ke ruang rapat. Saat dia masuk ruangan itu masih kosong.

Setelah lima menit menunggu, satu persatu karyawannya masuk ke dalam ruang rapat.

“Pengusaha itu sudah datang?” Tanya Tuan Cho kepada sekretarisnya.

“Sudah tuan, dia tadi minta ijin ke toilet dulu. Mungkin sebentar lagi,, eh itu dia orangnya tuan.” Bisik sang sekretaris sambil menunjuk ke arah pintu.

Seorang laki-laki tinggi agak gemuk dan berpenampilan rapi masuk ke dalam ruangan. Penampilannya sungguh berbeda dengan saat dia diwawancarai di televisi sesaat setelah keluar dari penjara.

“Selamat siang Tuan Cho, perkenalkan saya Hong Tae Hae, perusahaan saya memenangkan tender anda. Saya harap kita bisa bekerjasama dengan baik.” Kata Tuan Hong sambil mengulurkan tangan ke arah Tuan Cho.

Wajah Tuan Cho tampak tercekat. Di kepalanya kembali berkelebat ingatan saat Kyuhyun membawa Hae Jin kerumah untuk meminta menikahinya dan mereka malah menghinanya

***
Hae Jin’s pov

Aku menatap wajah Kyuhyun dengan pandangan terkejut. Jadi suami Ae Jong adalah Kyuhyun, Cho Kyuhyun ku, dan anak yang sedang di kandung Ae Jong itu anak Kyu. Aku benar-benar bingung sekarang, apa yang harus aku lakukan? Menangis? Pergi dari hadapan mereka atau apa?

“Hae Jin, kenalkan dia Cho Kyuhyun suamiku. Dan Kyu, dia sahabatku Hae Jin. Dia yang selama ini menemaniku.”

Kuulurkan tanganku pada Kyu.

“Annyeonghaseo, Hae Jin Imnida. Senang bertemu dengan anda.” Ucapku lirih dan sedikit terbata. Aku memakai bahasa yang formal yang jujur baru pernah aku kugunakan saat berbicara dengan Kyu. Kyu tampak menatap wajahku dan kulihat matanya sudah mulai memerah.

“Cho Kyuhyun imnida, saya juga senang bertemu dengan anda.” Ucapnya dengan bahasa formal juga. Lalu dia genggam tanganku. Kurasakan kehangatan menjalari seluruh tubuhku. Kehangatan yang aku rindukan. Wajah dan mataku mulai terasa panas. Oh Tuhan beri aku kekuatan untuk tidak menangis, aku mohon. Sebuah doa aku panjatkan didalam hati. Kyuhyun terus menggenggam tanganku sepertinya dia tidak ingin melepasnya sama sepertiku. Dia menatapku seakan berkata bahwa dia merindukanku. Akupun terus menatap matanya ingin rasanya aku membelai wajahnya seperti dulu, merasakan hembusan nafasnya di wajahku dan merasakan ciuman hangatnya. Aku merindukanmu Kyu. Aku tau kau juga merasakan hal yang sama denganku.

“Hae Jin, Kyuhyun, Gwenchana?” tiba-tiba suara Ae Jong memecahkan komunikasi inverbalku dengan Kyu.

“Ah, gwenchana.” Refleks Kyu melepaskan genggaman tangannya saat mendengar suara Ae Jong. Kekecewaan segera menyelimuti hatiku. Aku harus segera pergi dari sini. Kekuatanku untuk menahan air mata sudah sampai puncaknya, aku tidak mau mereka melihatku menangis.

“Ae Jong aku harus pergi, Siwon sudah menungguku. Selamat tinggal.” Ucapku dan dengan cepat membungkuk ke arah mereka berdua lalu dengan terburu-buru melangkah menjauh dari mereka.

Air mataku tumpah seketika, saat aku keluar dari café itu. Aku menangis sepanjang jalan menuju tempat mobilku terparkir. Setiap orang yang aku lewati selalu menoleh padaku dengan pandangan berkerut heran. Aku tidak peduli lagi, aku hanya ingin menumpahkan segala kesedihan dan kekecewaanku. Kenapa aku harus bertemu Ae Jong? Wae? Tangisku semakin menjadi di dalam mobil. Aku pukul kemudi mobil yang berada di depanku dengan keras.

“Kenapa aku harus bertemu lagi denganmu dalam keadaan seperti ini Kyu? Wae Kyuhyun? Wae?” teriakku keras-keras.

Aku menangis sambil berteriak di dalam mobil seperti orang gila.

***
Kyuhyun’s pov

Jadi Hae Jin yang selama ini menjadi sahabat Ae Jong. Kenapa kau harus muncul lagi Hae Jin? Walau aku akui aku masih sangat merindukanmu sampai sekarang. Hangat tangannya dalam genggamanku membuatku tidak mampu untuk melepasnya. Aku merindukan genggaman tangan ini.

Hae Jin menatapku dan aku seolah bisa mendengar suara hatinya yang berkata “Jeongmal Bogoshipoyo”. Aku juga sangat merindukanmu Hae Jin. Kau tahu betapa gilanya hidupku setelah kau pergi? Bagaimana aku mencarimu keseluruh penjuru dunia? Kenapa baru sekarang kau muncul?

Wajah dan mata Hae Jin tampak mulai memerah, dia pasti sebentar lagi akan menangis. Aku mohon jangan menangis disini Hae Jin, aku tidak ingin Ae Jong mengetahui semuanya. Aku mohon kuatkan dirimu.

““Hae Jin, Kyuhyun, Gwenchana?” tiba-tiba suara Ae Jong terdengar menghentikan komunikasi inverbalku dengan Hae Jin.

“Ah, gwenchana.” Kataku dan langsung melepaskan genggaman tanganku pada Hae Jin.

“Ae Jong aku harus pergi, Siwon sudah menungguku. Selamat tinggal.” Ucap Hae Jin. Dia membungkuk ke arah kami berdua dan dengan terburu-buru melangkah pergi.

Kutatap punggung Hae Jin yang menjauh. Kulihat punggungnya sedikit bergetar, dia pasti sudah menangis sekarang. Mianhae Hae Jin, aku kembali membuatmu menangis. Mataku mulai basah dengan air mata. Aku tidak boleh menangis sekarang, tidak boleh didepan Ae Jong.

“Kyuhyun gwenchana? Kau menangis?” kata Ae Jong sambil menatap mataku.

“Ani, aku tidak menangis.” Kataku sambil mengusap mataku agar air mata ini hilang. “Hanya mataku tiba-tiba perih mungkin terkena debu.”

“Jadi itu sahabatmu?”

“Iya dia yang aku temui di swalayan dan akhirnya menjadi sahabatku. Kau mengenalnya?”

Aku hanya menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Ae Jong.

“Dia bilang Siwon sudah menunggunya. Siapa Siwon?”

“Dia bilang Siwon kakaknya, tetapi aku lebih melihat Siwon itu kekasihnya. Kenapa?”

“Ani, cuma ingin tahu saja.”

Jadi kekasih Hae Jin yang baru yang Na Ri ceritakan dulu bernama Siwon. Kalau dia sudah bahagia dengan Siwon kenapa dia menangis tadi?

Andai aku bisa lebih lama bersama Hae Jin tadi.

***

Ae Jong’s pov

Ada apa dengan Kyuhyun dan Hae Jin? Kenapa mereka menangis? Kenapa Kyuhyun menatap Hae Jin seolah Hae Jin itu orang yang sangat dia rindukan? Apa yang sebenarnya terjadi saat ini?

“Jadi itu sahabatmu?” tanyanya padaku.

“Iya dia yang aku temui di swalayan dan akhirnya menjadi sahabatku. Kau mengenalnya?”

Dia hanya menggeleng.

“Dia bilang Siwon sudah menunggunya. Siapa Siwon?”

“Dia bilang Siwon kakaknya, tetapi aku lebih melihat Siwon itu kekasihnya. Kenapa?”

“Ani, Cuma ingin tahu saja.”

Ada yang Kyuhyun sembunyikan dariku tentang Hae Jin. Aku yakin mereka saling mengenal sebelumnya. Atmosfer saat mereka saling menatap tadi terasa lain. Aku seperti merasakan sesuatu kekuatan, mereka seperti sedang saling berbicara walau bibir mereka diam.

Siapa Hae Jin sebenarnya? Dan kenapa Kyuhyun bisa mengenalnya?

***
Kyu benar-benar bersikap aneh setelah bertemu dengan Hae Jin. Bahkan di dalam mobilpun dia hanya diam sambil menatap keluar jendela, dia melamun.

“Kyu, gwenchanayo?” kataku sambil membelai pelan bahu Kyu.

“Ne gwenchana.”

“Kau dari tadi melamun. Sejak bertemu Hae Jin di café tadi sikapmu berubah. Kau yakin tidak mengenal Hae Jin.”

“Ne.” jawabnya pendek.

“Jangan ada yang kau sembunyikan Kyu, aku mohon.”

“Aku bilang aku tidak mengenalnya.” Bentaknya padaku.

“Mianhae Ae jong, banyak yang aku pikirkan. Aku tidak bermaksud membentakmu.”

“Ne, cheonmaneyo.”

Baru kali ini dia membentakku lagi. Ada apa dengannya sebenarnya?

***
Hae Jin’s pov

Aku bangun dengan kepala pusing. Kulihat Siwon masih tertidur nyenyak di sampingku. Semalam aku tidur dipelukannya setelah menangis hebat, menumpahkan semua kesedihanku. Dan seperti biasa Siwon hanya duduk diam sambil memelukku dan menawarkanku minum berkali-kali. Dia menyerahkan dadanya untuk aku pukuli dan aku basahi dengan air mata.

Aku melangkah gontai ke kamar mandi. Aku menuju wastafel yang berada di sebelah bathtub. Kutatap bayangan wajahku di dalam kaca, sangat mengerikan. Rambut coklat panjangku awut-awutan. Mataku bengkak dengan kantung mata hitam menggantung dibawahnya. Bekas aliran air mata masih ada di sepanjang pipiku.

Kututup lubang didasar wastafel lalu aku buka keran airnya dan membiarkan wastafel itu dipenuhi air. Kubenamkan seluruh kepalaku ke dalam air itu agar seluruh rasa pening di kepalaku hilang. Dinginnya air di pagi itu bisa sedikit menghilangkan rasa pening di kepalaku.

Tiba-tiba sebuah tangan yang kokoh memegang bahuku dan menarik tubuhku yang menunduk ke dalam wastafel menjadi tegak.

“Apa-apaan kau ini? Bunuh diri tidak menyelesaikan masalah.” Marah Siwon padaku. Matanya melotot.

“Siapa yang mau bunuh diri?” kataku padanya.

“Kau benamkan kepalamu ke air seperti itu, kalau bukan mau bunuh diri lalu mau apa?”

Plak. Aku jitak kepala Siwon keras-keras. Aku kesal dituduh seperti itu.

“Aw! Appayo”

“Aku hanya ingin cuci muka. Kepalaku pening, mataku juga bengkak. Penampilanku mengerikan. Siapa tahu air dingin ini bisa menyembuhkannya.”

“Syukurlah kalau kau tidak berniat bunuh diri. Kalau kepalamu masih pening, istirahat saja, akan aku buatkan sarapan.”

“Cepat ya.”

Aku melangkah kembali ke kamar. Air dingin tadi sedikit bisa membuatku segar. Aku duduk di ranjang sambil memeluk kakiku. Daguku kuletakan diatas lutut, kembali kuingat pertemuanku dengan Kyuhyun semalam. Rasa sakit didadaku kembali terasa. Dan air mataku kembali terasa mengalir.

Aku lalu mengingat saat pertama kali bertemu dengan Kyu.

***
Author’s pov

Flashback

Kyuhyun dan teman-teman dekatnya di kampus Donghae, Leeteuk, dan Yesung tampak sedang duduk dihalaman kampus fakultas ekonomi.

“Anak-anak Ekonomi terkenal cantik-cantik” Ucap Donghae sambil menyiuli salah satu Yeoja yang lewat didepan mereka.

Kyuhyun dan yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah laku Donghae. Di Fakultas Teknik tempat mereka belajar jumlah gadis jika dihitung memang tidak akan habis sepuluh jari.

“Benar, lihat yang itu, yang memakai rok mini pink itu, cantik sekali.” Ucap Leeteuk sambil menunjuk Yeoja yang sedang berdiri di bawah pohon.

“Coba kau dekati dia.” Ucap Yesung.

“Baiklah, akan aku keluarkan jurus rayuan maut ala Leeteuk.” Leeteuk bangkit dan menarik celananya yang sedikit kedodoran, dia juga merapikan kaos dan kemejanya.

“Dia memang cantik dan seksi, kau beruntung jika bisa mendapatkannya Hyung.” Ucap Kyuhyun.

Leeteuk memang lebih tua dari mereka semua, seharusnya dia sudah diwisuda sekarang, tapi sepertinya dia masih betah untuk kuliah sehingga tidak segera menyelesaikan skripsinya.

Tiba-tiba sebuah mobil mewah mendekati yeoja yang sedang berdiri dibawah pohon itu. Seorang Namja tampan keluar dari dalam mobil dan memeluk yeoja itu, mereka lalu masuk ke dalam mobil bersama dan pergi.

“Dia memang cantik, tapi sayangnya sudah ada yang punya.” Ucap Kyuhyun sambil menepuk punggung Leeteuk lalu tertawa terbahak-bahak bersama Yesung dan Donghae.

“Aish! Aku terlambat.” Leeteuk berkata kesal sambil menendang sebuah batu kecil.

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke segala penjuru halaman. Lalu matanya menangkap sesosok Yeoja yang memakai celana Jins berwarna gelap yang dipadu dengan kaos tanpa lengan berwarna pink dan bolero rajut berlegan pendek berwarna putih, rambutnya yang panjang berwarna kecoklatan tampak digerai dengan poni yang dijepit ke belakang sehingga dahinya terlihat, sangat cantik.

Yeoja itu tampak sedang membungkuk memunguti beberapa sampah kering seperti kaleng minuman dan beberapa botol yang bertebaran di jalan aspal karena seorang tukang sampah tua yang bertugas membawa sampah itu ke tempat pengolahan sampah menjatuhkan kantong sampahnya.

Kyuhyun menatapnya tanpa berkedip. Yeoja lain pasti tidak mau melakukan hal itu, mengotori tangan halus mereka dengan sampah-sampah bau seperti itu, batinnya. Setelah semua sampah itu terkumpul yeoja itu tersenyum kepada ahboji yang sedang membungkuk berterima kasih itu.

“Jangan terlalu berharap kau bisa mendapatkannya.” Ucap Donghae tepat di telinga Kyuhyun.

Kyuhyun sedikit terlonjak kaget  “Siapa yang kau maksud?”

“Dia, Hong Hae Jin. Cantik, kaya dan berhati malaikat. Kau harus melewati antrian seluruh namja di universitas ini untuk bisa mendapatkannya.” Jelas Donghae.

“Wah, separah itukah? Tapi dia memang benar-benar cantik.” Kata Yesung sambil menatap Hae Jin yang sedang berjalan dan menyapa setiap orang yang dia lewati.

“Kyuhyun!” Leeteuk berteriak saat melihat Kyu bangkit dan sambil setengah berlari mendekati Hae Jin. Kyu sempat berbalik dan mengacungkan kedua ibu jarinya kepada ketiga temannya.

“Dia sudah gila.” Kata Donghae.

“Nekat.” Ucap Yesung.

“Sebentar lagi dia pasti menangis.” Leeteuk menggumam sambil menatap Kyu yang semakin mendekati Hae Jin.

***
Bruuk. Kyu dengan sengaja menjatuhkan semua buku, paper dan alat tulisnya ke jalan.

“Aigo! Ceroboh sekali aku.” Ucapnya berjongkok dan mulai memunguti barang-barangnya.

“Mari aku bantu.” Ucap Hae Jin sambil membantu memunguti buku dan kertas milik Kyuhyun.

“Gamsahamnida sudah mau membantuku.” Kata Kyu sambil membungkuk kearah Hae Jin.

“Ne, Cheonmaneyo. Kau dari fakultas teknik? Kenapa ada disini?” Tanya Hae Jin sambil menyerahkan paper yang berlabelkan fakultas teknik pada Kyu.

“Kadang ahli teknologi juga membutuhkan ahli ekonomi. Cho Kyuhyun imnida.” Ucap Kyu sambil mengulurkan tangannya.

“Hae Jin, Hong Hae Jin imnida.”

“Sebenarnya fakultas kami akan mengadakan sebuah acara amal, tetapi kami membutuhkan mahasiswa dari fakultas ekonomi untuk membantu kami merencanakan anggaran.”

“Acara amal?”

“Ne, untuk korban banjir dan longsor yang terjadi 2 minggu lalu, kau tahu kan?”

“Ne, banyak sekali korban disana.”

“Kau mau bergabung? Aku jamin acaranya bagus.”

“Hm, baiklah. Aku mau bergabung bersama kalian.”

“Boleh aku minta nomor ponselmu?”

“Tentu.”

Kyu mencatat nomor ponsel Hae Jin lalu mereka berpisah. Kyu kembali berjalan ke arah teman-temannya sambil mengacungkan ponselnya tinggi-tinggi dan tersenyum penuh kemenangan.

“Terkadang aku lupa kalau dia itu Drakyu.” Ucap Leeteuk dengan ekspresi terkejut melihat Kyu berhasil mendapatkan nomor ponsel Hae Jin.

“Ne, adegan dalam drama yang suka ditiru Kyu terkadang lebih efektif daripada rayuan Donghae.” Yesung menimpali sambil melirik ke arah Donghae.

“Kau dapat… nomor ponselnya?” ucap Donghae tidak percaya.

“Ne, jangan sebut aku Kyuhyun jika tidak bisa mendapatkan wanita impianku.”

“Aku minta.” Seru Donghae sambil berusaha merebut ponsel Kyuhyun dari tangannya.

“Andwe!” Ucap Kyu sambil menyimpan ponselnya di saku kemejanya.

***
Kyuhyun’s pov

Pagi ini aku bangun dengan perasaan tidak tenang. Kulihat Ae Jong masih tertidur lelap. Kubelai kepalanya lalu perutnya yang semakin membesar itu.

“Selamat pagi nak.” Gumamku.

Aku bangkit dari ranjang dan mencuci mukaku di kamar mandi.

Aku keluar dari kamar. Rumah masih terasa sepi. Mungkin appa masih tidur. Aku berjalan ke arah kolam renang di halaman belakang rumah. Ku hirup udara segar pagi itu yang membuat pikiranku kembali melayang pada saat aku mengungkapkan perasaanku pada Hae Jin dulu.

***
Author’s pov

Flashback.

Hae Jin dan Kyuhyun berada di dalam mobil. Mereka baru saja menghadiri acara amal yang diadakan oleh fakultas ekonomi. Sudah lebih dari 1 tahun waktu berlalu sejak mereka pertama kali bertemu dulu.

“Sudah sampai di rumahmu.” Ucap Kyu dengan wajah sedih.

“Kau mau mampir kedalam?”

“Ani, gomawo.”

Tiba-tiba hujan deras turun dari langit. Seakan sengaja menghalangi perpisahan mereka.

“Yah hujan. kenapa selalu seperti ini?” keluh Hae Jin.

Kyuhyun hanya tersenyum dan mengangkat bahu.

“Kau punya payung?”

Kyuhyun menggeleng sambil terus menatap gadis pujaan hatinya itu mengeluhkan turunnya hujan.

“Lalu bagaimana aku masuk ke dalam rumah? Pintu gerbang juga tertutup. Atau aku lari saja kedalam?”

“Andwe! Kau bisa sakit.”

“Lalu bagaimana aku masuk? Kau saja tidak memiliki payung.”

“Tetap disini sampai hujan reda.”

Hae Jin hanya menatap Kyuhyun yang tampak tersenyum meyakinkan Hae Jin untuk tetap tinggal.

“Kau tahu Hae Jin-ah, aku sangat menyukai hujan.”

“Wae?”

“Karena hujan selalu berhasil menahanmu untuk lebih lama berada disisiku.”

Hae Jin mengerutkan wajahnya, bingung mendengar kata-kata Kyu.

“Aku selalu ingin kau bisa lebih lama berada disisiku saat kita akan berpisah. Entah kenapa aku selalu merasa seperti itu. Kau tau tidak kenapa bisa seperti itu?”

Hae Jin hanya menggeleng lemah, dan semakin tidak mengerti dengan kata-kata Kyu.

Kyuhyun meraih tangan Hae Jin dan menggenggamnya erat.

“Karena aku mencintaimu. Saranghae Hong Hae Jin.”

Hae Jin hanya menatap Kyuhyun dengan pandangan tidak percaya.

“Dengan segala kerendahan hati, kuserahkan segala kekuranganku padamu. Karena hanya kau yang bisa membuatku menjadi sempurna. Maukah kau menerima kekuranganku ini dan menjadikannya sempurna?”

Hae Jin menatap mata Kyu dengan dalam. Dia bisa menemukan ketulusan dan kejujuran disana. Kyu memang benar-benar mencintainya. Kyuhyun seseorang yang berbeda dengan namja-namja yang selama ini mendekatinya hanya karena kecantikan dan kekayaan ayahnya. Perlahan Hae Jin mengangguk sambil tersenyum kepada Kyuhyun.

Kyuhyun menarik tubuh Hae Jin kepelukannya. Dia membelai kepala yeoja sangat dia cintai itu. Didalam hatinya terpanjat beribu rasa syukur karena dia tidak harus merasakan pahitnya cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Dia lepaskan pelukannya dan dia belai pipi Hae Jin yang sudah bersemu merah. Perlahan dia dekatkan wajahnya dan mencium bibir gadis itu dengan lembut. Hatinya terasa bergetar saat itu. Belum pernah dia rasakan perasaan seperti ini kepada yeoja-yeoja lain. Saat itulah dia merasa yakin bahwa Hae Jin lah yeoja yang tepat untuk mendampinginya sampai akhir hembusan nafasnya. Bahkan suara derai hujan yang jatuh diatas mobil mereka seakan mengiringi kebahagian yang tengah meraka rasakan saat itu.

***
Hae Jin’s pov

“Makanlah bibimbap ini. atau mau aku suapi?” Ucap Siwon.

Aku hanya mengangguk manja padanya. Siwon menyuapkan sesendok bibimbap ke mulutku.

“Uhuk uhuk. Kau masukan berapa banyak garam kedalam sini?” tanyaku sambil mengambil gelas air dan meminumnya banyak-banyak.

“Mianhae, kau tau sendiri aku tidak bisa memasak. Kalau begitu aku akan memesan makanan saja.”

“Andwe! Ini masih bisa diperbaiki.” Kataku sambil bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke dapur. Aku tambahkan sedikit kecap dan minyak wijen untuk mengurangi rasa asin. Aku aduk bibimbap itu dan aku coba makan sesendok.

“Nah kalau begini baru enak. Kau coba ini.” Ucapku sambil menyuapkan sesendok bibimbap ke dalam mulut Siwon.

“Benar, jadi enak.”

“Gomawo sudah membuatkanku makanan.” Aku tidak sampai hati untuk membuang makanan yang sudah dia buat dengan susah payah.

“Cheonmaneyo, setelah kau mandi kita pergi ke Lotte World ya.”

“Untuk apa?”

“Aku ingin bermain denganmu” Siwon mulai memasang tampang memohonnya yang membuatku tidak tega untuk menolak.

“Ne Oppa.”

***

“Kau senang hari ini?” Tanya Siwon sambil merangkul bahuku. Kami baru pulang dari Lotte World malam ini. Kami duduk berdua di sofa didepan televisi melepaskan lelah.

“Ne.”

“Aku senang bisa melihat senyum dan tawamu lagi tadi.” Ucapnya sambil mempererat rangkulannya padaku.

Kudengar ponsel di tasku berbunyi nyaring.

“Yeoboseo.” Sapaku.

“Yeoboseo Hae Jin.” Terdengar suara Appa dari seberang telepon.

“Appa? Ada apa?”

“Besok bisa kau ke rumah bertemu Appa?”

“Ne Appa besok aku kesana.”

“Appa merindukanmu, sekalian aja Siwon, Appa ingin bertemu dengannya.”

“Ne Appa.”

Kuletakan ponselku di atas meja.

“Appa menyuruh aku dan kau datang ke rumah besok.”

“Tuan Hong?”

“Ne, katanya dia merindukanku dan ingin bertemu denganmu. Kau mau kan ikut bersamaku?”

Siwon hanya mengangguk lalu meletakan kepalanya ke sandaran sofa dan tertidur.

***

“Ikut proyek Appa?” kataku terkejut. Appa baru saja memintaku menjadi wakilnya untuk proyek terbarunya. Baru kali ini Appa memintaku bekerja di perusahannya, sedangkan selama ini Appa selalu melarangku turut campur dalam setiap pekerjaannya.

“Appa ingin kamu memanfaatkan ilmu yang sudah kamu dapatkan di universitas.”

Aku menatap Appa tajam dan heran.

“Sudah kau jangan menatap Appa seperti itu. Sudah waktunya kamu belajar bekerja. Siwon tolong dampingi dan ajari Hae Jin, semalam aku sudah berbicara dengan Appa dan Ommamu dan mereka mengijinkannya.”

“Ne ahjussi, akan saya bantu sebisa saya.”

“Malam ini kalian tidur disini saja, besok pagi kita bisa berangkat bersama.”

Aku merasakan Appa seperti merahasiakan sesuatu, dan itu membuat perasaanku tidak tenang.
***

“Kita sudah sampai. Ayo turun.” Ucap Appa saat mobil yang kita tumpangi berhenti di sebuah gedung besar.

“Ini kan bukan kantor Appa.” Tanyaku heran.

“Ini kantor rekan Appa, kita akan mengadakan rapat disini.” Kata Appa sambil merapikan jasnya lalu turun dari mobil.

“Sudah tidak usah dipikirkan, ayo kita turun. Dan kau tampak cantik menggunakan setelan resmi seperti itu.” Ucap Siwon sambil menyentil dahiku.

“Aish! Appayo.”

Aku berjalan dibelakang Appa, bersama Siwon yang berada di sebelahku. Setelah kami memasuki gedung tersebut kulihat semua mata pegawai wanita tertuju pada Siwon. Mereka tampak berkasak-kusuk sendiri. Kulirik Siwon, dan sesuai dugaanku dia sedang menebarkan senyumannya.

Tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah tulisan di belakang meja resepsionis. CHOWON corp. Langkahku terhenti seketika. Aku fokuskan mataku pada tulisan itu. Benar-benar Chowon corp. ini kan perusahaan milik ayah Kyuhyun. Jadi Appa bekerjasama dengan..

“Jin-ah, kenapa berhenti?” Appa memanggilku dari depan lift.

Aku berjalan cepat menghampiri Appa, dan langsusng menatap Appa dengan pandangan tajam.

“Kenapa Appa bekerjasama dengan perusahaan Kyuhyun?” tanyaku pada Appa.

“Eh? Jadi perusahaan ini milik Kyuhyun? Chowon corp.?” Siwon membelalakan matanya karena terkejut.

Aku tidak menghiraukan pertanyaan Siwon. “Wae Appa?”

“Appa hanya tertarik dengan penawaran tender mereka.” Ucap Appa terlihat santai.

“Ani! Pasti Appa punya alasan tersembunyi. Wae Appa?” suaraku mulai meninggi. Ada sedikit rasa marah di hatiku pada Appa.

“Jaga sikapmu Hae Jin.” Tampaknya semua orang di lobby kantor itu sudah menengok ke arah kami sampai Appa membentakku seperti itu. “Kau diam saja dan turuti semua keinginan Appa.” Pintu lft di depan kami terbuka dan Appa menarik tanganku masuk ke dalam lift.

Didalam Lift Siwon membelai pelan punggungku mencoba menenangkan emosiku tanpa sepengetahuan Appa. Kutatap Siwon dan dia hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.

“Kalian tunggu diluar dulu, setelah Appa memanggil kalian masuk, baru kalian masuk.”  Kata Appa saat kami sampai di depan ruang rapat.. Appa beserta sekretaris dan dua manager masuk ke dalamnya.

“Semua akan baik-baik saja. Mungkin ini hanya kebetulan saja ayahmu bekerjasama dengan perusahaan milik ayah Kyuhyun.” Ucap Siwon sambil menggenggam tanganku.

“Tidak Oppa, ini bukan kebetulan, ini memang sudah diatur oleh Appa.”

“Aku akan selalu berada disisimu dan mendukungmu.”

Aku benar-benar marah pada Appa. Disaat aku benar-benar harus melupakan Kyuhyun, Appa memberiku jalan untuk kembali dekat dengannya. Bagaimana bisa aku melupakannya kalau seperti ini?

***
Author’s pov

“Sepertinya saya sedikit membuat perubahan dalam rencana proyek kita Tuan Cho.” Tuan Hong berkata kepada Tuan Cho yang duduk di seberangnya. Mereka hanya dibatasi sebuah meja rapat berbentuk bulat.

“Perubahan? Perubahan seperti apa? Saya harap perubahan itu tidak merugikan salah satu dari kita Tuan Hong.” Ucap Tuan Cho sambil memandang ke arah Tuan Hong yang sedang tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu.

“Saya tidak jadi terlibat langsung didalam proyek ini. Tetapi saya akan menugaskan wakil saya untuk menggantikan posisi saya.”

“Bagaimana bisa seperti itu?” Tuan Cho berkata dengan mengernyitkan dahinya.

“Proyek yang saya tangani mulai banyak sekarang Tuan Cho, dan saya pikir untuk proyek kita ini akan lebih cocok jika dilakukan oleh wakil saya itu. Saya harap anda bisa mengerti, dan saya tidak akan pernah mengecewakan anda, walaupun kita sama-sama tahu dulu anda pernah mengecewakan saya.” Ucap Tuan Hong. Sejenak suasana rapat menjadi memanas karena ucapan Tuan Hong. Beberapa direksi Tuan Cho mulai saling berbisik menerka maksud ucapan Tuang Hong.

“Siapa wakil yang anda maksud?” Tuan Cho bertanya setelah sejenak sempat terdiam karena ucapan Tuan Hong akan kejadian masa lalu.

Tuang Hong tersenyum penuh kemenangan. “Kau suruh masuk mereka berdua.” Ucap Tuan Hong kepada sekretarisnya.

Sang sekretaris segera bangkit dari duduknya dan keluar ruangan. Semenit kemudian pintu kembali terbuka. Seorang yeoja yang memakai setelan resmi berwarna biru gelap dengan rambut panjang coklat tergerai indah masuk bersama seorang namja tinggi berbadan tegap dan berwajah tampan, disusul sekretaris Tuan Hong dibelakangnya.

Mata Tuan Cho seketika itu terbelalak kaget. Wajahnya tampak memucat. Dia sama sekali tidak menyangka yeoja yang dulu dia hina sekarang berdiri dihadapannya kembali.

“Saya perkenalkan putri kesayangan saya Hong Hae Jin. Dan Putra saya Choi Siwon. Mereka yang akan menggantikan saya.”

“Selamat siang Tuan Cho, sudah lama tidak bertemu dengan anda.” Hae Jin berkata sambil mengulurkan tangannya ke arah Tuan Cho.

Tuan Cho menjabat tangan Hae Jin dalam diam. Hae Jin tersenyum dingin padanya.

Selama rapat mereka tidak saling berbicara, sepertinya mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara Siwon yang sedang mempresentasikan program yang semalam Tuan Hong berikan padanya. Hanya sesekali Tuan Cho tampak memandang Hae Jin sebentar dengan pandangan sedih. Hae Jin hanya diam menunduk sambil memainkan pena miliknya diatas meja.

“Saya rasa rapat sudah selesai dan berkas sudah anda dan putri saya tanda tangani, saya permisi pulang Tuan Cho, semoga kerjasama kita berjalan lancar.” Tuan Hong bangkit dari kursinya dan menjabat tangan Tuan Cho.

Satu-persatu orang mulai keluar, hanya Tuan Cho dan Hae Jin yang tertinggal didalam. Tadi Siwon sempat mengajaknya keluar, tetapi Hae Jin menyuruhnya pergi lebih dulu.

“Kau sudah kembali? Aku dengar dari Kyuhyun dulu kau berada di Paris bersama ibumu.” Tuan Cho membuka percakapan dengan Hae Jin.

“Ne.” Jawab Hae Jin singkat. Tidak sedikitpun dia memandang wajah Tuan Cho.

“Aku minta maaf atas apa yang sudah aku dan almarhum istriku katakan padamu dulu.”

“Al.. Almarhum?” Hae Jin mengangkat wajahnya dan memandang wajah sedih Tuan Cho.

“Tidak berapa lama setelah Kyuhyun menikah istriku meninggal karena kecelakaan. Aku mohon kau mau memafkan segala kesalahannya padamu selama dia hidup.”

“Pernahkah terbersit dibenak anda dulu bagaimana perasaan saya dan Kyuhyun saat itu? Pernahkah anda memikirkan itu sedikit saja?” Ucap Hae Jin sambil menatap Tuan Cho tajam. Rasa sakit hatinya yang dahulu muncul kembali. Air mata mulai tertumpuk disudut matanya.

“Aku tahu aku berdosa padamu dan Kyuhyun.”

“Pernahkah anda berfikir bagaimana.. bagaimana hidup saya dan Kyuhyun anak anda hancur? Bagaimana gilanya kami setelah itu? Pernahkah Tuan Cho?” Kata-kata Hae Jin sedikit tersendat karena menahan air mata.

“Mianhae Hae Jin. Aku hanya orang tua yang menginginkan semua yang terbaik untuk anaknya.”

“Begitu rendahnya kah saya dimata anda saat itu?”

“Mianhae, jeongmal mianhae. Tolong mengerti posisiku sebagai orang tua, kelak saat kau tua sepertiku dan memiliki anak, kau pasti akan memiliki pikiran yang sama denganku.” Ucap Tuan Cho. Dia bangkit dari kursinya dan membungkukan badan pada Hae Jin dan melangkah keluar ruang rapat.

Tinggalah Hae Jin sendirian di ruangan yang besar itu. Dia menunduk dan dari kedua bola matanya yang indah mengalir air mata membasahi kedua pipinya.

***
Ae Jong’s pov

Layar televisi di depanku tengah menayangkan sebuah variety show dengan sebuah boyband terkenal di Korea sebagai bintang tamunya sore ini. Kudengar suara pintu depan terbuka. Aku segera beranjak dari sofa dan melangah perlahan menuju ruang tamu. Perutku yang semakin membesar membuatku semakin sulit bergerak.

“Appa sudah pulang?” tanyaku saat kulihat Appa masuk ke dalam rumah sambil membawa beberapa map dan tas kerja.

“Ne, bagaimana keadaanmu dan cucuku Ae Jong? Kalian baik-baik saja ?” kata Appa sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa di ruang tamu. Sepertinya dia sangat lelah.

“Ne Appa. Appa mau Ae Jong buatkan minum?”

“Ani. Appa mau istirahat di kamar. Tolong kau bawakan tas dan dokumen ini ke ruang kerja Appa ya.” Ucap Appa, lalu bangkit dan melangkah menuju kamarnya.

“Ada apa Ae Jong? Siapa yang datang?” Kyu tampak sedang menuruni tangga menghampiriku.

“Appa baru saja pulang. Beliau menyuruhku menyimpan tas dan dokumennya ke dalam ruang kerjanya.” Kataku padanya. Tanpa sengaja aku menjatuhkan sebuah map, kertas-kertas didalamnya segera berhamburan ke lantai.

“Biar aku saja yang ambil, kau jangan terlalu banyak membungkuk.” Ucap Kyu sambil memunguti kertas-kertas itu.

Kulihat wajah Kyu menegang saat membaca sebuah kertas yang dia ambil tadi. Apa sebenarnya isi tulisan pada kertas itu?

“Dimana Appa?” Tanyanya.

“Dikamar, ada apa sebenarnya Kyu?”

Kyuhyun tidak menghiraukan pertanyaanku. Dia segera berlalu dan masuk ke dalam kamar Appa. Aku yakin dia menyembunyikan sesuatu selama ini. Hatiku berkata aku harus mengikutinya.

Aku berjaan perlahan menuju kamar Appa. Kudekati pintunya dan mencoba mendengarkan percakapan yang sedang terjadi disana.

“Kenapa Appa tidak pernah menceritakannya padaku?” terdengar suara Kyuhyun.

“Appa juga baru bertemu dengannya tadi. Appa sama sekali tidak tahu kalau ayahnya akan meminta dia untuk menggantikannya.” Kali ini suara Appa yang terdengar.

“Aku harus bertemu dengannya besok.”

“Ani! Kau pikirkan perasaan Ae Jong. Dia sedang mengandung anakmu.”

Mereka benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku. Siapa orang yang ingin Kyuhyun temui besok.

“Untuk terakhir kalinya Appa. Aku ingin berbicara dengannya untuk terakhir kali. Aku akan menyelesaikan semuanya. Aku mohon.”

“Besok siang ada rapat di kantor. Kau bisa ikut Appa.”

Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dariku. Tiba-tiba perutku terasa sakit. Akhir-akhir ini perutku sering terasa sakit saat aku banyak pikiran. Dokter bilang kandunganku semakin melemah, dan ada kemungkinan bayiku terlahir prematur. Aku mohon kau kuat anakku. Batinku.

***
Aku sedang berusaha menghubungi Hae Jin sekarang. Aku ingin bertemu dengannya dan menceritakan semua masalahku padanya. Namun anehnya tidak satupun teleponku dia angkat. Bahkan terakhir dia reject lalu nomor ponselnya tidak bisa lagi dihubungi. Ada apa dengannya?

“Hae Jin tidak bisa dihubungi dari tadi.” Ucapku pada Kyuhyun yang sudah berbaring di ranjang di sebelahku.

“Untuk apa kau menghubunginya lagi?”

Dahiku mengernyit heran. “Dia sahabatku Kyu, aku ingin bertemu dengannya.”

“Kau tidak usah menemuinya lagi.”

“Mwo?” Aku semakin tidak mengerti dengan ucapan Kyu.

“Aku mau kau tidak menemuinya lagi!”

“Wae? Dia sahabatku dan dia orang yang baik.”

“Itu sudah menjadi keputusanku dan aku harap kau tidak membantah.” Ucapnya sambil membalikan tubuhnya sehingga memunggungiku.

Kenapa Kyu seperti membenci Hae Jin? Mungkinkah sesuatu yang Kyuhyun dan Appa sembunyikan dariku ada hubungannya dengan Hae Jin?

***
Kyuhyun dan Appa sudah berangkat bersama sejak satu jam yang lalu. Wajah mereka berdua tampak tegang. Semalam aku memikirkan banyak hal. Mencoba menyatukan kepingan-kepingan ingatanku akan semua kejadian yang telah aku alami selama ini, tetapi tidak berhasil. Aku yakin mereka mempunyai benang merah yang sama namun sedalam apapaun aku berusaha aku belum bisa menemukan benang merah itu. Aku pun memutusakan untuk menyusul mereka ke kantor Appa, aku ingin mengetahui siapa orang yang berhasil membuat Kyuhyun dan Appa berwajah setegang itu.

Aku membuka lemari untuk mengambil baju ganti. Tiba-tiba aku teringat pada suatu benda yang pernah aku temukan diantara tumpukan baju Kyuhyun dulu. Aku cari kembali benda itu diantara tumpukan baju Kyuhyun, tapi tidak ada. Aku buka laci lemari pakaian dan mengambil semua dokumen pribadi Kyuhyun. Aku temukan benda itu disana, terselip diantara paspor dan visa Kyuhyun. Selembar Foto.

Didalam foto itu tampak Kyuhyun sedang memeluk seorang yeoja cantik dari belakang dengan latar belakang sebuah padang rumput dan langit biru. Mereka berdua tersenyum dengan sangat bahagia. Yeoja itu adalah Hae Jin, Hae Jinku, Hae Jin sahabatku.

Kenangan-kenangan yang semalam aku coba rangkai sekarang seakan bersatu sendiri seperti sebuah jigsaw, membentuk jawaban yang selama ini cari.

Sekarang aku tau kenapa aku merasa tidak asing dengan wajah Hae Jin saat bertemu dengannya dulu. Aku pernah melihatnya didalam foto ini. Aku tau kenapa nama Hae Jin juga tidak asing ditelingaku. Nama itu selalu Kyuhyun gumamkan disetiap tidurnya dulu. Aku tahu arti pandangan mereka berdua tempo hari yang menyiratkan kerinduan yang teramat sangat.

Aku kembali teringat usulan nama anak dari Hae Jin. Teringat kembali saat Kyuhyun menolak membicarakan tentang anak. Saat Kyuhyun mabuk dan melakukan semua itu padaku, bukan aku yang ada dimatanya, tetapi Hae Jin.

Aku jatuh terduduk diatas ranjang semua ingatan itu bergulir satu persatu memperjelas semuanya. Kyuhyun tidak pernah pulang dulu karena mencari Hae Jin bersama Na Ri. Orang yang dimaksud Na Ri saat Kyu mengalami kecelakaan adalah Hae Jin.

Air mata Hae Jin terbayang kembali dibenakku saat dia bercerita tentang kekasihnya yang menikah dengan yeoja lain. Aku tahu sekarang siapa yang membuat mereka menangis, membuat mereka sama-sama merasakan penderitaan yang teramat sangat, itu adalah diriku sendiri. Ucapan Na Ri dirumah sakit dulu, bahwa aku hadir diantara dua orang yang saling mencintai. Diantara Kyuhyun dan Hae Jin.

Aku mengangis, meratap, mengasihani diriku sendiri yang tak pernah bisa menyadari keadaan disekitarku yang sebenarnya.

Orang yang ingin Kyuhyun temui hari ini pasti Hae Jin. Aku harus segera menyusul mereka. Aku bangkit dan menghapus air mata dipipiku dan segera bersiap.

***
Hae Jin’s pov

Kulihat Kyuhyun duduk didepanku sambil menatap mataku lekat-lekat. Kenapa dia harus berada disini?

Kurasakan Siwon menggenggam tanganku kuat-kuat. Aku tahu dia pasti khawatir dengan keadaanku. Aku menoleh pada Siwon dan tersenyum menenangkannya. Kulihat dia menatap tajam pada Siwon. Tatapannya seakan ingin membunuh Siwon. Dia cemburu, aku hafal dengan tatapannya itu.

Tuan Cho menutup rapat kali ini dan mempersilahkan semua orang untuk keluar. Aku dan Siwon segera bangkit dari kursi. Aku memang ingin secepatnya lepas dari tatapan tajam Kyuhyun.

Sebelum aku mencapai pintu sebuah tangan memegang tanganku dan menahanku.

“Aku ingin berbicara denganmu.” Suara berat Kyuhyun terdengar di belakangku.

Aku menoleh dan menatapnya.

“Jongsohamnida Tuan Cho, saya masih ada urusan lain. Jika ini soal pekerjaan bisa anda tanyakan pada sekretaris saya.” Kataku dengan bahasa formal.

“Aku mohon, mungkin ini untuk terakhir kalinya. Dan tolong jangan gunakan bahasa seperti itu, kau tahu sendiri aku membencinya.” Ucapnya sambil tetap memandangku lekat-lekat.

“Jongsohamnida, saya benar-benar harus pergi sekarang. Dan bisakah anda melepaskan tangan saya?” Kataku masih tetap menggunakan bahasa formal sambil berusaha melepaskan tanganku.

“Ani, sebelum kau mau berbicara denganku.”

Tiba-tiba Siwon menarik tanganku yang dipegang Kyuhyun dengan kuat, dia segera berdiri diantara aku dan Kyuhyun, seakan dia ingin menyembunyikanku di belakang punggungnya.

“Harusnya kau mengalah saat seorang wanita memintamu melepaskan tangannya dengan hormat. Tidak seharusnya kau memaksanya, apalagi jika dia orang yang kau cintai.” Ucap Siwon sambil memandang Kyuhyun dengan tajam.

Sekarang mereka berdua saling memandang dengan pandangan marah. Aku tahu Kyuhyun sangat marah sekarang. Dadanya tampak naik turun menahan amarah.

“Aku tidak memiliki urusan denganmu. Minggir kau.” Katanya dengan kasar.

“Dia kekasihku sekarang, kau harus berhadapan denganku kalau mau menyakitinya.”

Buuuk. Kyuhyun melayangkan pukulannya ke wajah Siwon. Siwon jatuh ke lantai dan kulihat hidung dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Oppa!” pekikku.

Aku berlutut dilantai dan memeluk Siwon.

“Cukup Kyuhyun! Kau keterlaluan!” Teriakku padanya.

“Aku ingin bicara denganmu.” Ucapnya sambil memandang Siwon dengan penuh kebencian.

Aku ambil sapu tanganku dan kubersihkan luka Siwon. Dia hanya mengernyit menahan sakit.

“Kau masuk ke mobil dulu. Aku mau bicara dengannya.” Kataku padanya. Aku tahu Kyuhyun tidak akan pernah menyerah sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan.

“Ani.” Ucap Siwon

“Aku akan baik-baik saja, percayalah padaku.” Aku membantu Siwon berdiri. Dia memandangku dengan ragu sejenak. Aku mengangguk padanya. Lalu dia keluar dari ruangan.

“Ada apa?” tanyaku tanpa menatap wajahnya.

“Apa kau masih mencintaiku?” tanyanya.

“Ani.” Ucapku. Kepalaku menunduk menyembunyikan wajahku. Dia pasti akan tau aku berbohong jika dia menatap wajahku.

“Tatap aku Hae Jin. Apa kau masih mencintaiku?” nada bicaranya semakin keras. Dia memegang daguku dan mengangkat wajahku sehingga dia bisa menatap mataku.

“Apa kau masih mencintaiku?” dia mengulang pertanyaannya. Aku hanya diam sambil menatap matanya. Percuma aku mengelak, dia pasti tahu aku masih mencintainya hanya dengan menatap mataku.

“Kau tahu bagaimana gilanya aku setelah kau pergi? Bagaimana aku menjadi rapuh tanpa kau disisiku? Aku mencarimu sampai kesegala penjuru dunia Hae Jin! Tapi tak pernah sekalipun aku berhasil menemuimu!” Ucapnya .

“Aku tidak bisa kehilangan dirimu walau hanya sekejap Hae Jin. Aku sempat berfikir untuk mengakhiri hidupku, tapi aku sadar jika aku mati aku tak bisa bertemu denganmu lagi. Kau ingat hal yang paling aku takutkan di dunia ini apa?”

“Kematian.” Jawabku lirih.

“Wae?”

“Karena.. karena… karena kau takut tidak bisa melihatku lagi.” Ucapku terbata. Air mata telah membasahi pipiku sekarang, aku kembali teringat kenanganku saat bersamanya dulu.

“Aku telah menyerahkan segala kekuranganku padamu Hae Jin, karena kau adalah kesempurnaanku. Dan saat kau pergi aku menjadi gila.”

“Mianhae Kyuhyun, mianhae.” Ucapku dengan tangisan yang semakin mengeras.

Kurasakan dia memelukku erat-erat. Pelukan yang sudah hampir 2 tahun tidak aku rasakan. Aku pun membalas pelukan eratnya. Aku ingin puas merasakan pelukannya untuk terakhir kalinya sebelum dia benar-benar melupakanku dan kembali kepada Ae Jong dan anak mereka.

***
Kyuhyun’s pov

Aku memeluknya seerat aku bisa. Rinduku padanya sudah tidak terbendung lagi. Tidak kurasakan ada penolakan dari dirinya. Dia memang masih sangat mencintaiku, sama seperti aku yang masih mencintainya.

“Mianhae aku sudah membuatmu menderita. Mianhae karena aku tidak bisa menolak pernikahan itu. Mianhae karena kembali membuat kesalahan dengan menghamili Ae Jong. Mianhae Hae Jin, mianhae.” Setetes air mata mengalir dipipiku.

“Bogoshipoyo.” Ucapku dengannya secara bersamaan.

Aku terus mendekapnya erat-erat. Aku ingin terus mendekapnya sampai hari ini berakhir. Tak ingin aku lepaskan lagi pelukannya. Hae Jin terus menangis didadaku. Kemejaku telah basah oleh air matanya.

Aku lepaskan pelukannya. Kulihat dia masih menangis sesegukan sambil menunduk. Aku pegang dagunya dan aku angkat wajahnya. Wajah Hae Jin memerah dan bekas air mata tampak jelas di pipinya.

Aku dekatkan wajahku ke wajahnya. Mata Hae Jin terpejam. Ku sentuh bibirnya dengan bibirku, kucium dia dengan penuh gairah. Kutumpahkan semua kerinduanku yang terpendam selama ini. Hae Jin mendekap leherku erat-erat. Aku membelai punggungnya sambil terus menciuminya dengan rakus. Sudah lama aku tidak merasakan dekapan dan ciumannya yang penuh kehangatan.

***
Ae Jong’s pov

“Dimana Tuan Cho Kyuhyun?” tanyaku pada resepsionis di lobby gedung.

“Beliau baru selesai rapat dengan Tuan Cho dan pihak dari perusahaan Hong di ruang rapat di lantai 4.” Kata resepsionis itu.

“Gamsahamnida.”

Aku segera berjalan ke arah lift dan naik ke lantai 4. Saat lift terbuka sekilas kulihat Siwon sedang menuruni tangga menuju lantai dasar. Benar dugaanku kalau yang ingin Kyuhyun temui adalah Hae Jin.

Aku berjalan di sepanjang lorong mencari ruang rapat. Aku menemukan sebuah ruangan dengan pintu sedikit terbuka. Aku dengar sebuah percakapan dari dalam sana. Aku melihat keadaan didalam dari celah pintu yang terbuka.

Kyuhyun tampak sedang memegang kedua bahu Hae Jin. Lampu ruangan yang terang didalam membuatku bisa melihat dengan jelas mereka berdua.

“Aku tidak bisa kehilangan dirimu walau hanya sekejap Hae Jin. Aku sempat berfikir untuk mengakhiri hidupku, tapi aku sadar jika aku mati aku tak bisa bertemu denganmu lagi. Kau ingat hal yang paling aku takutkan di dunia ini apa?” Kudengar suara Kyuhyun yang berat menggema diseluruh penjuru ruangan itu.

“Kematian.” Kata Hae Jin.

“Wae?”

“Karena.. karena… karena kau takut tidak bisa melihatku lagi.” Kulihat air mata Hae Jin mengalir di kedua pipinya. Mendengar ucapannya hatiku terasa perih. Aku yang telah menyebabkan mereka menjadi seperti ini.

“Aku telah menyerahkan segala kekuranganku padamu Hae Jin, karena kau adalah kesempurnaanku. Dan saat kau pergi aku menjadi gila.”

“Mianhae Kyu, mianhae.” Ucap Hae Jin dengan tangisan yang semakin mengeras.

Kulihat Kyuhyun sudah memeluk Hae Jin dengan erat. Aku bersandar pada dinding disebelah pintu. Aku tidak bisa melihat mereka seperti ini. Hatiku terasa sakit. Sebenarnya aku tidak berhak merasa seperti ini, karena bagaimanapun mereka saling mencintai. Dan dihati Kyuhyun tidak ada sedikitpun rasa cinta untukku. Air mataku sudah mengalir deras di kedua pipiku. Aku belai perutku yang membesar, kurasakan sebuah gerakan dari dalam sana, seakan anakku ini tahu apa yang sedang terjadi saat ini.

Aku kembali melihat keadaan didalam ruangan itu. Hatiku mencelos saat kulihat Kyuhyun sedang mencium Hae Jin. Mereka berciuman seakan sedang melepaskan rindu yang sudah tertahan selama ini. Nafasku menjadi sesak melihatnya. Aku segera pergi dari tempat itu.

Aku meminta supir pribadiku untuk mengantarku pulang. Aku akan memintai cerai dari Kyuhyun, aku tidak bisa membiarkan mereka berdua menderita terlalu lama. Biarlah aku saja yang pergi dari kehidupan mereka, karena memang aku yang menyebabkan mereka berpisah.

Tiba-tiba kurasakan sakit yang hebat dari perutku. Rasa sakit ini lebih hebat dari yang biasanya aku rasakan. Lalu aku merasakan ada sesuatu mengalir di antara paha dan betisku. Aku menunduk dan melihat cairan merah sudah sedikit menggenanag di lantai mobil.

“Antarkan aku rumah sakit saja.” Kataku pada supirku.

“Ne omonim. “ katanya.

***
Hae Jin’s pov

Kyuhyun melepaskan ciumannya padaku. Sepertinya dia memberiku kesempatan untuk bernafas. Kulihat dia tersenyum padaku. Tangaku masih melingkar dilehernya. Dia kembali merengkuhku ke dalam pelukannya yang hangat.

“Siapa Siwon? Benarkah dia kekasihmu?” tanyanya sambil tetap memelukku.

“Dia Oppaku. Anak dari Appa Choi.”

“Appa Choi? Ah ne, orang yang menikahi Ommamu?”

“Ne, kau masih mengingatnya?”

“Aku tidak pernah melupakan sedikitpun setiap hal yang berhubungan denganmu. Saranghae Hae Jin.”

Tiba-tiba kudengar suara dering ponsel yang nyaring menggema di ruangan itu. Kyuhyun melepas pelukannya dan mengambil ponsel disaku celananya. Dia lihat layar ponselnya lalu menatapku sejenak.

“Yeobose?” Ucapnya saat mengangkat telepon.

“Mwo? Ne, aku kesana sekarang.” Katanya dengan suara panik.

“Ada apa Kyu?” Aku heran melihatnya panik setelah menerima telepon dari seseorang.

“Ae Jong. Dia ada dirumah sakit, katanya dia akan melahirkan.”

“Mwo? Bukankah kehamilannya baru berusia 7 bulan?” Aku kembali teringat ucapan dokter tempo hari tentang keadaan Ae Jong.

“Kita harus kesana sekarang.” Ucap Kyuhyun.

“Ne.”

***
Kami berlari disepanjang lorong rumah sakit. Aku sudah menghubungi Siwon dan memintanya pulang lebih dulu karena aku harus melihat keadaan Ae Jong bersama Kyuhyun.

Diluar ruang bersalin kulihat Tuan Cho sudah duduk diruang tunggu.

“Bagaimana keadaannya Appa?” Tanya Kyuhyun pada Tuan Cho.

“Appa juga tidak tahu. Katanya dia seperti ini saat dalam perjalanan pulang dari kantor Appa mencarimu.”

Aku terperangah mendengar penjelasan Tuan Cho. Jangan-jangan tadi Ae Jong melihat semua yang aku dan Kyuhyun lakukan sehingga dia seperti ini. Aku menatap Kyuhyun yang juga tampak kaget.

“Permisi, adakah disini yang bernama nona Hae Jin?” seorang perawat keluar dari ruangan itu.

“Saya Hae Jin, ada apa?”

“Nyonya Ae Jong terus memanggil nama anda, dia meminta anda mendampinginya. Mari ikut saya masuk ke dalam.”

“Lalu suaminya?” tanyaku.

“Nyonya Ae Jong tidak berkenan untuk didampingi suaminya, dia hanya meminta anda untuk mendampinginya.”

Aku menatap Kyuhyun dan Tuan Cho bergantian, meminta persetujuan mereka.

“Masuklah dan temani Ae Jong.” Tuan Cho menepuk bahuku dan menyuruhku masuk.

Aku segera mengikuti perawat itu masuk ke dalam ruangan bersalin. Didalam dokter dan perawat tampak sibuk berlari kesana kemari mengambil peralatan.

“Hae Jin.” Ae Jong memanggil namaku dan melambaikan tangannya padaku. Aku raih dan genggam tangannya erat-erat. Melihat keadaannya yang tampak pucat dan penuh keringat membuatku tidak tega.

“Bertahanlah Ae Jong. Kau harus kuat demi anakmu dan Kyuhyun.” Kataku memberinya semangat.

“Aku sudah tahu semuanya. Mianhae, aku membuatmu berpisah dengan Kyuhyun.” Ucap Ae Jong dengan nafas tersengal-sengal.

“Ani, jangan bicara seperti itu. Tidak usah kau pikirkan aku, yang terpenting sekarang kau dan anakmu selamat.”

Kudengar Dokter memberi perintah ke pada Ae Jong. Perawat yang berdiri disamping Ae Jong mengulangi kata-kata dokter tadi sambil menghapus peluh yang menetes di wajahnya.

Ae Jong seperti sudah kehilangan kekuatannya, nafasnya makin terputus-putus, denyut jantungnya juga semakin melemah. Dokter dan perawat pun saling berteriak memberikan pengarahan.

“Sekali lagi kau coba Ae Jong. Kau harus selamat, aku mohon kuatlah.” Kataku sambil terus menggenggam tangan Ae Jong.

Ae Jong tampak mengeluarkan sisa tenaga terakhirnya. Bersamaan dengan teriakan tertahan Ae Jong, tangis bayi terdengar nyaring. Seluruh perawat dan dokter didalam ruangan itu tersenyum kepada kami dan mengucapkan selamat.

“Anak anda laki-laki Nyonya.” Kata seorag Dokter sambil mengangkat bayi Ae Jong yang masih merah itu. Air mataku menetes melihatnya.

“Bisa tolong panggilkan suaminya.” Kataku pada seorang perawat. Tidak lama kemudian Kyuhyun berlari masuk menghampiri Ae Jong dan menggenggam tangannya.

“Anak kita laki-laki.” Ucap Kyu sambil sedikit tertawa kecil.

“Ne, dia pasti sangat mirip dirimu.” Kata Ae Jong.

Seorang perawat menghampiri kami bertiga dan menyerahkan bayi yang baru lahir itu ke dekapan Ae Jong. Bayi itu hanya diselimuti selimut tebal berwarna biru.

Kyuhyun mencium kening Ae Jong lalu menempelkan keningnya sendiri ke kening Ae Jong. Mereka tampak tertawa bahagia. Kyuhyun membelai pipi bayi yang tampak merasa nyaman di dalam dekapan ibunya itu hingga tertidur.

Aku hanya melihat mereka dengan perasaan sedih bercampur senanga. Senang karena Ae Jong dan bayinya selamat, dan sedih karena sekarang aku harus benar-benar menyerahkan laki-laki yang paling aku cintai di dunia ini kepada wanita lain. Baru 15 menit yang lalu dia masih menjadi milikku dan mendekapku, sekarang aku harus merelakannya. Kyuhyun kecil telah hadir diantara mereka tidak sepantasnya lagi aku berdiri disini.

 Aku putuskan untuk keluar dari ruangan ini dan pulang kerumah. Namun saat aku membalikan badan dan hendak melangkah pergi, sebuah tangan memegang pergelanganku.

“Jangan pergi.” Ucap Ae Jong dengan parau.

“Aku harus pergi, tidak sepantasnya aku berada disini sekarang.” Kataku padanya.

Tiba-tiba Ae Jong mengangkat bayi dalam dekapannya dan mengulurkannya padaku. Aku hanya memandangnya dengan heran. Ae Jong mengangguk padaku sambil tersenyum. Aku ambil bayi itu lalu aku gendong dia. Kulihat wajahnya yang sedang tertidur, sangat mirip dengan Kyuhyun.

“Rawat dia Hae Jin. Jadilah ibu baginya.” Katanya dengan nafas yang kembali tersengal.

“Apa maksudmu Ae Jong?”

“Dokter pendarahan!” seru seorang perawat. Semua dokter segera mendekat dan segera terjadi keributan, mereka segera melakukan pertolongan untuk menghentikan pendarahan yang dialami Ae Jong.

“Mianhae, karena aku kalian berpisah. Berjanjilah padaku setelah ini kalian akan meneruskan kisah cinta kalian berdua.” Ucap Ae Jong sambil meletakan tanganku tepat diatas tangan Kyuhyun.

“Apa yang kau katakan Ae Jong. Kau harus bertahan.” Kata Kyuhyun padanya.

“Hae Jin, beri nama dia Cho Gi Hyeon, seperti impian kalian berdua.” Ucap Ae Jong sambil memandangku. Matanya semakin terlihat sayu. Aku hanya mengangguk. Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi, hanya air mata yang mengalir deras di wajahku.

Genggaman tangan Ae Jong pada tanganku melemah, matanyapun sudah tertutup sekarang. Bayi Gi Hyeon menangis didalam pelukanku. Terdengar pula suara alat pendeteksi denyut jantung yang berbunyi nyaring menandakan detak jantung telah berhenti.

“Ae Jong bangun. Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini. Ae Jong bangun.” Kyu berteriak-teriak sambil mengguncangkan bahu Ae jong yang sudah terdiam.

Aku menoleh kepada Dokter dan perawat disekitar kami. Mereka menggelengkan kepala dengan wajah sedih. Air mata semakin membanjiri wajahku. Selamat jalan Yoo Ae Jong, sahabatku. Kataku dalam hati.

***
Kyuhyun didampingi ayahnya dan orang tua Ae Jong berdiri ditepi makam Ae Jong. Jejak air mata masih terihat jelas di wajah Kyuhyun. Aku berdiri dibarisan belakang keluarga Cho sambil menggendong Gi Hyeon yang sedang tertidur pulas dalam dekapanku. Disebelahku berdiri Siwon dan Na Ri.

“Kalau aku lihat lebih dekat Gi Hyeon sangat mirip denganmu dan Kyuhyun, tidak ada sedikitpun bagian dari dirinya yang mirip Ae Jong.” Bisik Na Ri di telingaku.

“Kau ini bicara apa! Ae Jong ibunya! Tentu dia mirip Ae Jong.” Kataku sambil melotot kepada Na Ri.

“Tidak Hae Jin, yang dikatakan Na Ri benar. Dia sangat mirip denganmu, lihat bibirnya, persis sepertimu, kalau hidungnya persis seperti Kyuhyun.”

“Bagaimana mungkin, Ae Jong ibu biologisnya. Kalian pernah belajar biologi tidak sih disekolah?” Kataku kesal kepada mereka berdua. Tentu saja volume suara kami seperti orang sedang berbisik-bisik.

“Mungkin Ae Jong dan Tuhan telah membuat rencana ini untukmu dan Kyuhyun. Membuat Gi Hyeon mirip denganmu agar dia benar-benar menjadi anakmu.” Ucap Siwon.

“Cinta itu takdir Hae Jin. Saat takdir datang mendekat padamu, segalanya mungkin terjadi.” Na Ri menimpali.

Mungkinkah itu terjadi. Mungkinkah ini rencanamu dan Tuhan, Ae Jong. Batinku sambil menengadah melihat langit.

Kerumunan orang mulai membubarkan diri tanda upacara pemakaman telah selesai. Kulihat Kyuhyun berjalan menghampiriku. Dia tersenyum kecil kepadaku, tapi aku masih bisa merasakan kesedihan hatinya atas meninggalnya Ae Jong. Kyuhyun mencium keningku. Dia juga mencium pipi Gi Hyeon yang masih pulas tertidur. Lalu dia memelukku erat.

***
Kyuhyun’s pov

Kulihat Hae Jin berjalan perlahan didampingi ayahnya menghampiriku yang sudah berdiri di depan altar. Dia memakai gaun pengantin berwarna putih dengan rambut coklatnya disanggul ke atas. Sebuah tiara kecil pun menghiasi puncak kepalanya. Wajahnya yang tertutup cadar tipis berwarna putih tampak sangat bahagia. 5 bulan setelah Ae Jong meninggal kami memutuskan untuk menikah.

Tuan Hong menyerahkan tangan putrinya yang terbalut sarung tangan satin kepadaku. Kugenggam tangannya erat dan kami berbalik menghadap kepada pendeta. Pendeta itu menyampaikan khotbah pernikahan kepada kami dan semua orang yang hadir di gereja itu.

Berkali-kali Hae Jin menoleh dan tersenyum padaku. Setelah melewati berbagai rintangan dan sempat terpisah selama hampir 2 tahun, kami kembali dipertemukan oleh Tuhan, dan disini, ditempat ini kami akan mengikrarkan janji suci pernikahan kami.

Pendeta menyuruh kami saling berhadapan dan mengucapkan janji pernikahan kami masing-masing.

“Saya, Cho Kyuhyun, menerimamu Hong Hae Jin sebagai satu-satunya istriku mulai saat ini dan selamanya, dalam tawa, tangis, derita maupun kebahagiaan. Aku berikan seluruh kekuranganku kepadamu Hong Hae Jin untuk kau jadikan sempurna. Aku berjanji untuk selalu menghormatimu dan selalu bersyukur atas rasa cintaku padamu yang akan terus bertambah setiap harinya. Aku berjanji  bahwa dalam kehidupan kami yang selalu bersama, akan selalu ada kebenaran,  tidak akan ada rahasia di antara kami, tidak ada kegelapan, dan selalu ada cahaya sampai Tuhan memisahkan kami dengan kematian.” Kuucapkan janji pernikahanku dengan lantang dan tanpa keraguan sedikitpun.

***
Hae Jin’s pov

Kutatap wajah Kyuhyun yang sedang mengucapkan janji pernikahannya dengan lantang. Janji yang harus terus dia tepati sampai kematian memisahkan kami berdua. Dia tampak tersenyum padaku diakhir pengucapan janji pernikahannya.

Pendeta berkata sekarang giliranku untuk mengucapkan janjiku.

“Saya, Hong Hae Jin, menerimamu Cho Kyuhyun, sebagai satu-satunya suamiku, ayah dari anak-anakku mulai saat ini dan selamanya, dalam tawa, tangis, derita maupun kebahagiaan. Selalu menumbuhkan rasa cintaku menjadi lebih besar daripada hari yang telah lalu. Selalu siap untuk mendampingimu dalam kegelapan dan cahaya, bersedia sebagai selimutmu, kekasihmu dan teman terbaikmu sampai Tuhan memisahkan kami dengan kematian.” Kuucapkan janji pernikahanku sambil menatap mata Kyuhyun lekat-lekat.

Kyuhyun meraih tangan kananku dan memasangkan sebuah cincin emas yang berukirkan namanya ke jari manisku. Lalu dia mengulurkan tangan kanannya untuk aku pasangi cincin yang sama dengan ukiran namaku.
Posting Komentar